Maryam Al-Qibthiyyah radhiyallahu ‘anha datang dari Mesir ke Madinah dan kemudian memeluk Islam. Ia menjadi bagian dari keluarga Rasulullah ο·Ί dan hidup dalam rumah yang dipenuhi wahyu, ujian, dan pendidikan iman.
Dari rahim Maryam lahir Ibrahim, putra Rasulullah ο·Ί. Kelahiran itu membawa kebahagiaan besar bagi Nabi ο·Ί. Namun Allah menguji kebahagiaan itu dengan wafatnya Ibrahim dalam usia masih kecil.
Rasulullah ο·Ί menangis saat memeluk putranya. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya mata ini menangis dan hati bersedih, namun kami tidak mengatakan kecuali yang diridhai oleh Rabb kami.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maryam kehilangan anaknya. Rasulullah ο·Ί kehilangan putranya. Namun keduanya tidak memprotes takdir. Tidak ada keluhan terhadap Allah, tidak ada kalimat yang melampaui batas.
Ramadhan, terutama di akhir-akhirnya, sering menjadi waktu merenung tentang kehilangan—kehilangan orang tercinta, kehilangan kesempatan, bahkan kehilangan Ramadhan yang hampir berlalu. Maryam mengajarkan bahwa ridha kepada takdir adalah puncak ketenangan hati.
Ketika gerhana matahari terjadi bertepatan dengan wafatnya Ibrahim, Rasulullah ο·Ί meluruskan bahwa gerhana tidak terjadi karena kematian atau kelahiran seseorang. Ini adalah pelajaran tauhid di tengah suasana duka.
Maryam hidup dengan tenang dan sederhana. Ia tidak mencari kedudukan, tidak menuntut perhatian, dan menerima ketetapan Allah dengan sabar.
Pelajaran Ramadhan dari Maryam:
-
Kehilangan adalah bagian dari ujian iman
-
Menangis tidak bertentangan dengan sabar
-
Ridha kepada takdir melahirkan ketenangan
Doa:
“Ya Allah, jika Engkau menguji kami dengan kehilangan, kuatkan hati kami. Jadikan lisan kami hanya mengucapkan yang Engkau ridai.”

0 komentar: