“Anak sekarang mentalnya lemah.”
Kalimat ini sering muncul saat melihat Gen Z mudah terlihat cemas, mudah lelah, atau mudah mengatakan “burnout”.
Tapi pertanyaannya bukan sekadar: mereka lemah atau tidak.
Pertanyaannya adalah: mereka tumbuh dalam tekanan seperti apa?
Resiliensi bukan soal tidak pernah jatuh.
Resiliensi adalah kemampuan bangkit dalam konteks tantangan zamannya.
Dan konteks Gen Z sangat berbeda.
🌍 Generasi yang Tumbuh dalam Krisis Bertubi-tubi
Jika kita melihat rentang hidup mereka, banyak Gen Z mengalami:
-
Krisis ekonomi global (sejak kecil).
-
Paparan media sosial sejak remaja.
-
Tekanan performa akademik yang semakin kompetitif.
-
Pandemi COVID-19 di fase sekolah/kuliah.
-
Ketidakpastian dunia kerja yang semakin fleksibel tapi tidak stabil.
Mereka tidak tumbuh dalam dunia yang tenang.
Mereka tumbuh dalam dunia yang berubah cepat dan tidak pasti.
🧠 Mengapa Mereka Lebih Terlihat Cemas?
Generasi sebelumnya sering memendam tekanan.
Gen Z lebih vokal.
Mereka:
-
lebih sadar istilah mental health,
-
lebih terbuka membicarakan anxiety,
-
lebih berani mengatakan “saya tidak baik-baik saja”.
Apakah ini rapuh?
Atau justru tanda literasi emosional yang meningkat?
Ekspresi bukan kelemahan.
Diam bukan selalu kekuatan.
💪 Resiliensi Versi Gen Z
Resiliensi generasi sebelumnya sering terlihat dalam bentuk:
-
tahan banting,
-
tidak banyak mengeluh,
-
tetap bekerja meski lelah.
Resiliensi Gen Z sering terlihat dalam bentuk:
-
mencari bantuan,
-
berani berkata tidak,
-
mengatur ulang prioritas,
-
mencari lingkungan yang lebih sehat.
Bentuknya berbeda. Tapi esensinya sama: bertahan.
⚖️ Di Mana Letak Tantangannya?
Tantangan Gen Z bukan pada kemampuan bangkit,
melainkan pada regulasi emosi dan toleransi ketidaknyamanan.
Karena terbiasa dengan respon cepat (chat, like, instant feedback), mereka kadang kesulitan menghadapi:
-
proses panjang,
-
hasil yang tertunda,
-
kritik keras,
-
sistem yang kaku.
Di sinilah pembimbingan menjadi penting.
🎓 Di Kampus, Ini Terlihat Seperti Apa?
-
Mudah merasa “burnout” di tengah semester.
-
Takut presentasi karena khawatir dinilai.
-
Sensitif terhadap komentar yang dianggap meremehkan.
-
Lebih nyaman diskusi tertulis daripada debat terbuka.
Namun di sisi lain:
-
Cepat adaptasi platform baru.
-
Fleksibel dalam belajar online.
-
Kreatif dalam mencari solusi alternatif.
-
Berani menyuarakan isu sosial.
Rapuh?
Tidak sesederhana itu.
🤍 Resiliensi Bukan Soal Keras, Tapi Lentur
Jika generasi sebelumnya kuat seperti baja,
Gen Z mungkin lebih seperti bambu.
Bambu tidak sekeras baja.
Tapi ia lentur.
Ia membungkuk saat angin besar, lalu kembali tegak.
Mungkin bentuk kekuatan mereka memang berbeda.
Dan tugas kita bukan mengubah mereka menjadi baja—
melainkan membantu mereka memahami bagaimana cara berdiri tegak dengan versinya sendiri.

0 komentar: