Hari 19 — Belajar Menyerahkan Tanpa Menyerah

 



Ada perbedaan halus antara menyerah dan menyerahkan.
Dulu aku sulit membedakannya. Setiap kali aku melepaskan sesuatu, aku merasa kalah. Merasa tidak cukup kuat untuk bertahan. Merasa imanku kurang panjang.

Padahal, tidak semua yang dilepaskan itu kalah.
Sebagian justru bentuk kepercayaan.

Aku pernah berjuang terlalu keras pada hal-hal yang tidak bisa kukendalikan: perasaan orang lain, waktu yang tak kunjung sesuai, rencana yang terus meleset. Aku mengerahkan doa, usaha, dan harap—sampai lupa bernapas. Sampai lelahku berubah menjadi sesak.

Hari ini aku belajar menyerahkan tanpa berhenti melangkah.

Menyerahkan berarti aku tetap berusaha, tapi tidak lagi memaksa hasil. Aku tetap berdoa, tapi tidak menagih jawaban dengan tenggat. Aku tetap berharap, tapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaanku pada satu kemungkinan.

Ada ketenangan aneh yang muncul ketika aku berhenti menggenggam terlalu erat. Seolah hidup diberi ruang untuk bernapas. Seolah aku diizinkan berjalan tanpa beban yang berlebihan.

Menyerahkan bukan berarti aku tidak peduli. Justru karena aku peduli, aku percaya. Percaya bahwa tidak semua hal harus kupikul sendiri. Percaya bahwa ada skenario yang lebih luas dari yang bisa kupahami sekarang.

Hari ini, aku tidak berhenti berharap.
Aku hanya berhenti memaksa.

Dan di titik itu, aku menemukan satu hal yang lama hilang:
lega.

0 komentar: