Hari 10 — Mengapa Aku Sering Keras pada Diriku Sendiri

 



Aku sering bertanya, dengan nada yang tidak selalu ramah:
kenapa aku begini?
kenapa belum bisa?
kenapa masih seperti ini?

Nada itu bukan datang dari luar. Ia lahir dari dalam—dari kebiasaan lama menuntut diri untuk selalu kuat, selalu bisa, selalu siap. Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai diriku terletak pada seberapa baik aku menjalani peran. Pada seberapa cepat aku mencapai sesuatu. Pada seberapa sedikit aku merepotkan orang lain.

Tanpa sadar, aku menjadikan diriku proyek yang tak pernah selesai. Selalu ada yang perlu diperbaiki. Selalu ada target baru. Selalu ada standar yang naik, bahkan saat aku sudah kelelahan mencapainya.

Aku keras pada diriku sendiri karena aku takut gagal. Takut mengecewakan. Takut dianggap kurang. Kekerasan itu terasa seperti bentuk perlindungan—seolah dengan menekan diri lebih dulu, dunia tidak akan sempat melakukannya. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya: aku lelah sebelum sempat menikmati apa pun.

Hari ini aku mulai menyadari, bahwa aku tidak perlu dipaksa untuk layak. Aku tidak harus sempurna untuk pantas dihargai. Disiplin tidak harus menyakitkan. Tumbuh tidak harus selalu dengan luka baru.

Aku belajar membedakan antara dorongan untuk berkembang dan kebiasaan menyiksa diri. Yang satu membangkitkan, yang lain menguras. Dan aku ingin memilih yang pertama—meski harus belajar pelan-pelan.

Jika selama ini aku begitu keras pada diriku, mungkin karena aku belum tahu cara lain mencintai. Hari ini aku ingin mencoba cara yang berbeda: berbicara pada diriku dengan nada yang ingin kudengar dari orang yang kucintai.

Lebih lembut.
Lebih sabar.
Lebih manusiawi.

Aku masih ingin berkembang. Tapi tidak lagi dengan mengorbankan diriku sendiri.

0 komentar: