🌱 Seri Planning Study & Career #19 — Karier Bisa Berubah, Nilai Hidup yang Perlu Dijaga

 



Ada fase ketika kita menyadari sesuatu yang agak mengejutkan: rencana yang dulu terasa pasti, kini terasa asing. Pekerjaan yang dulu diidamkan, sekarang melelahkan. Jalur yang dulu diyakini, kini terasa sempit. Di titik ini, banyak orang panik—takut dianggap tidak konsisten, takut dicap “tidak tahu mau ke mana”.

Padahal, perubahan karier bukan anomali. Ia bagian dari pertumbuhan.

Yang sering membuat perubahan terasa menakutkan bukan perubahannya, melainkan kekhawatiran bahwa kita sedang kehilangan arah. Padahal, yang sering terjadi justru sebaliknya: arah sedang diselaraskan ulang. Kita berubah karena belajar, karena mengenal diri lebih baik, karena realitas mengajari hal-hal yang tidak terlihat di awal.

Karier bisa berubah karena banyak alasan—kondisi hidup, kesehatan mental, tanggung jawab keluarga, minat yang berkembang, atau nilai yang menguat. Dan semua alasan itu sah. Yang perlu dijaga bukan agar karier tidak berubah, melainkan agar nilai hidup tetap menjadi jangkar.

Pernah dengar ga, seorang Raditya Dika, yang dikenal sebagai penulis, aktor, sutradara, youtuber, stand up comedian, di salah satu podcastnya menyampaikan, bahwa career bukan hanya ke atas, tapi bisa juga tumbuh ke samping dan berkembang. Artinya eksplorasi terhadap hal-hal baru bisa saja dilakukan dan dipelajari seperti halnya Raditya Dika, beliau ingin dikenal sebagai penulis, sebagai core dari semua jenis profesinya.

Nilai hidup adalah hal-hal yang, ketika dilanggar terus-menerus, membuat kita lelah secara mendalam. Nilai tentang waktu, integritas, relasi, makna kerja, dan cara kita memperlakukan diri sendiri. Nilai tidak selalu keras; sering kali ia hadir sebagai rasa tidak nyaman yang berulang—tanda bahwa ada yang perlu ditinjau ulang.

Ketika karier berubah tanpa nilai sebagai kompas, kita mudah terombang-ambing. Sebaliknya, ketika nilai jelas, perubahan justru menjadi lebih terarah. Kita bisa berkata: “Aku berpindah bukan karena lari, tetapi karena menjaga apa yang penting.”

Beberapa pertanyaan sederhana bisa membantu menjaga nilai tetap di tengah perubahan:

  • Dalam pekerjaan ini, bagian mana dari diriku yang paling hidup?

  • Bagian mana yang terus-menerus terkuras?

  • Jika ritme ini kulanjutkan dua tahun lagi, apa yang akan terjaga—dan apa yang akan hilang?

  • Nilai apa yang tidak ingin kutawar, apa pun peranku nanti?

Jawaban-jawaban ini tidak menutup perubahan; ia memandu perubahan.

Penting juga mengakui bahwa konsistensi tidak selalu berarti bertahan di satu tempat. Kadang konsistensi justru berarti setia pada nilai yang sama, meski wadahnya berubah. Konsistensi pada cara bekerja yang sehat. Pada hubungan yang bermakna. Pada rasa cukup yang manusiawi.

Di dunia yang cepat berubah, kemampuan beradaptasi sering dipuji. Tapi adaptasi yang sehat membutuhkan satu hal: jangkar. Tanpa jangkar nilai, adaptasi berubah menjadi kelelahan.

Jika hari ini kamu sedang mempertimbangkan perubahan—besar atau kecil—beri ruang pada nilai untuk berbicara. Perubahan yang dijalani dengan kesadaran mungkin tidak selalu mulus, tapi ia lebih bisa dipertahankan.


🌿 Menjaga yang Inti, Mengubah yang Perlu

Karier adalah sarana. Nilai hidup adalah inti. Ketika inti terjaga, sarana boleh berubah. Dan ketika sarana berubah untuk melindungi inti, itu bukan kegagalan—itu kedewasaan.

Kamu boleh bergeser. Kamu boleh memperbarui arah. Selama kamu tahu apa yang ingin kamu jaga, perubahan akan terasa lebih tenang.

0 komentar: