🌱 Seri Planning Study & Career #8 — Aku Suka Banyak Hal, Tapi Tidak Ahli Apa-Apa: Mitos atau Fakta?

 



Ada satu pengakuan yang sering muncul pelan-pelan, biasanya saat kita mulai serius memikirkan masa depan:
“Aku tertarik banyak hal, tapi rasanya tidak benar-benar ahli di satu pun.”

Kalimat ini sering diikuti rasa cemas. Seolah-olah ketertarikan yang banyak adalah kelemahan. Seolah-olah dunia hanya memberi tempat bagi mereka yang sejak awal sudah jelas: satu bidang, satu jalur, satu identitas.

Padahal, tidak semua orang tumbuh dengan minat yang lurus dan tunggal.

Sebagian dari kita justru berkembang dengan cara menjelajah. Tertarik pada ini sebentar, lalu pindah ke sana. Menyukai banyak hal sekaligus, tapi kesulitan menunjuk satu dan berkata, “Ini aku.” Dan di dunia yang sangat menghargai spesialisasi, kondisi ini mudah membuat kita merasa tertinggal.

Yang sering luput kita sadari adalah bahwa menyukai banyak hal tidak sama dengan tidak punya arah. Kadang itu hanya berarti arah kita belum menyempit.

Banyak orang yang akhirnya menemukan perannya justru bukan karena mereka memilih satu minat sejak awal, tetapi karena mereka membawa irisan dari berbagai ketertarikan. Kemampuan melihat hubungan antar bidang. Kemampuan menjembatani. Kemampuan berpikir lintas sudut pandang.

Masalahnya, kita sering membandingkan proses eksplorasi dengan hasil akhir orang lain. Kita melihat seseorang yang sudah tampak “ahli”, tanpa melihat berapa lama ia mencoba, salah belok, atau bahkan ragu sebelum sampai ke sana.

Ketika kita berkata “tidak ahli apa-apa”, sering kali yang sebenarnya terjadi adalah:
– kita belum cukup lama tinggal di satu hal
– kita belum memberi waktu untuk satu minat tumbuh lebih dalam
– atau kita terlalu cepat menilai diri sendiri dengan standar yang sempit

Keahlian jarang datang dari ketertarikan sesaat. Tapi ia juga jarang datang dari paksaan. Ia tumbuh dari ketertarikan yang dipelihara cukup lama, meski di awal terasa biasa saja.

Di fase ini, mungkin pertanyaannya bukan:
“Aku ahli di mana?”
tetapi:
“Hal apa yang ingin aku pelajari sedikit lebih lama dari yang lain?”

Tidak harus langsung seumur hidup.
Cukup enam bulan.
Cukup satu tahun.

Kadang, memberi izin pada diri sendiri untuk mendalami satu hal tanpa janji besar sudah cukup untuk melihat apakah sesuatu itu layak diperjuangkan lebih jauh.

Menyukai banyak hal juga bukan vonis bahwa kamu harus memilih satu dan membuang yang lain. Ada karier yang memang membutuhkan spektrum luas, bukan fokus sempit. Ada peran yang lahir dari kemampuan menggabungkan, bukan mengerucutkan.

Yang penting adalah berhenti memusuhi dirimu sendiri karena belum “jadi siapa-siapa”. Proses menjadi jarang instan. Ia sering terlihat seperti kebingungan dari dalam, dan terlihat seperti diam dari luar.

Pelan-pelan, arah itu biasanya muncul. Bukan karena kamu memaksakan pilihan, tapi karena kamu cukup jujur untuk tinggal lebih lama di satu hal dan melihat apa yang tumbuh di sana.

Tidak semua orang ditakdirkan menjadi spesialis sejak awal.
Sebagian dari kita adalah peramu, penghubung, penjelajah.

Dan itu bukan kekurangan.
Itu hanya cara tumbuh yang berbeda.

0 komentar: