🌱 Seri Planning Study & Career #12 — Lanjut S2/S3: Panggilan, Pelarian, atau Strategi?

 



Keinginan melanjutkan studi sering datang dengan wajah yang tenang. Ia terdengar mulia, terlihat terencana, dan tampak “aman”. Tapi di balik formulir pendaftaran dan daftar persyaratan, ada pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur: kenapa aku ingin lanjut?

Pertanyaan ini tidak untuk menghakimi. Justru sebaliknya—untuk menjernihkan niat agar langkah yang diambil tidak terasa berat di tengah jalan.

Dalam pengalaman banyak orang (termasuk aku), alasan melanjutkan S2 atau S3 biasanya berputar di tiga wilayah ini: panggilan, pelarian, atau strategi. Tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah. Yang penting adalah kesadaran.


🌿 Panggilan: Ketika Belajar Memanggil Lagi

Ada orang yang lanjut studi karena dorongan intelektual yang nyata. Mereka menikmati proses membaca, menulis, berdiskusi, dan menggali. Ketika memikirkan riset atau topik tertentu, ada rasa hidup—meski tahu jalannya panjang dan melelahkan.

Tanda-tanda panggilan sering halus:

  • kamu penasaran lebih dalam, bukan sekadar ingin gelar

  • kamu siap membaca banyak dan berpikir lama

  • kamu menerima bahwa hasilnya tidak instan

Panggilan bukan berarti tanpa ragu. Banyak yang terpanggil tetap takut. Bedanya, ketakutan itu tidak mematikan keinginan untuk berjalan.


🌿 Pelarian: Ketika Studi Jadi Tempat Berlindung

Ada juga yang lanjut studi karena dunia kerja terasa menakutkan, atau karena belum siap menghadapi ketidakpastian setelah lulus. Studi terasa seperti ruang aman—terstruktur, familiar, dan punya identitas yang jelas.

Pelarian tidak selalu buruk. Kadang kita memang butuh ruang yang aman. Tapi pelarian menjadi bermasalah ketika:

  • studi dipilih untuk menghindari keputusan lain

  • kelelahan emosional dibawa masuk ke ruang akademik

  • proses belajar dijalani tanpa gairah

Jika studi dijadikan tempat bersembunyi, cepat atau lambat tekanannya akan terasa—dalam bentuk burnout, kehilangan motivasi, atau kebingungan yang lebih dalam.


🌿 Strategi: Ketika Studi Adalah Langkah yang Disengaja

Ada pula yang melanjutkan studi sebagai strategi sadar. Mereka tahu tujuan kariernya membutuhkan kualifikasi tertentu. Mereka menimbang waktu, biaya, dan dampaknya. Mereka tidak selalu “jatuh cinta” pada akademik, tapi siap berkomitmen.

Strategi yang sehat biasanya ditandai oleh:

  • tujuan yang jelas dan realistis

  • perhitungan waktu dan sumber daya

  • kesadaran akan konsekuensi

Strategi bukan berarti dingin. Ia justru jujur: “Ini bukan jalan termudah, tapi ini jalan yang paling masuk akal bagiku.”


🌿 Menjernihkan Niat Tanpa Menghakimi Diri

Satu orang bisa berada di lebih dari satu kategori. Kamu bisa merasa terpanggil dan strategis. Kamu bisa memulai dari pelarian lalu menemukan panggilan. Hidup jarang hitam-putih.

Yang penting adalah berani bertanya:

  • Jika tidak ada tekanan sosial, apakah aku tetap ingin studi ini?

  • Bagian mana dari proses yang paling kutakuti, dan kenapa?

  • Apa yang ingin kupelajari—dan apa yang ingin kuhindari?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak menuntut jawaban cepat. Ia menuntut kejujuran pelan.


🌿 Penutup: Studi Lanjut yang Bisa Dijelaskan ke Diri Sendiri

Lanjut S2 atau S3 bukan tentang terlihat ambisius. Ia tentang kesiapan untuk menjalani proses panjang dengan sadar. Jika kamu bisa menjelaskan alasanmu pada dirimu sendiri—tanpa defensif, tanpa pembenaran—biasanya itu tanda yang baik.

Apa pun niatmu hari ini, beri ruang untuk meninjaunya kembali. Niat boleh berubah seiring bertambahnya pengalaman. Yang penting, langkahmu lahir dari kesadaran, bukan kepanikan.

Belajar lagi bisa menjadi jalan yang indah—jika kamu tahu kenapa kamu memilihnya.

0 komentar: