Ada hari-hari ketika imanku tidak runtuh, tapi goyah pelan.
Bukan karena aku berhenti percaya, melainkan karena terlalu banyak hal yang belum kupahami. Terlalu banyak doa yang terasa menggantung. Terlalu banyak rencana yang berjalan tidak sesuai harap.
Di hari-hari seperti itu, aku tetap menyebut nama Tuhan—tapi dengan suara yang lebih pelan. Aku tetap melangkah—tapi dengan hati yang penuh tanda tanya. Aku sering bertanya dalam diam: apakah aku didengar? apakah aku dipahami?
Keraguan itu tidak selalu datang sebagai penolakan. Kadang ia hadir sebagai kelelahan. Sebagai keinginan untuk diyakinkan, dipeluk, atau sekadar diberi tanda kecil bahwa aku tidak berjalan sendirian.
Hari ini aku belajar menerima satu kebenaran yang menenangkan: Tuhan tahu.
Ia tahu doa-doa yang tak sempat terucap.
Ia tahu air mata yang jatuh tanpa suara.
Ia tahu usaha yang tidak terlihat, niat yang sering disalahpahami, dan ragu yang kerap kusimpan sendiri.
Aku tidak harus selalu yakin seratus persen untuk tetap dipercaya. Aku tidak harus selalu kuat untuk tetap dikuatkan. Bahkan ketika aku ragu, aku masih datang. Dan mungkin, datang itulah bentuk iman yang paling jujur.
Jika hari ini aku belum mengerti mengapa jalanku begini, aku memilih tetap berjalan. Jika hatiku belum tenang sepenuhnya, aku memilih tetap bersandar. Aku percaya, pengetahuan Tuhan tentang diriku jauh lebih utuh daripada penilaianku pada diriku sendiri.
Hari ini, aku tidak memaksa diriku untuk mengerti segalanya.
Aku hanya ingin percaya bahwa aku dijaga—bahkan saat aku ragu.
Dan kepercayaan kecil itu, entah bagaimana, membuat langkahku terasa lebih ringan.


0 komentar: