Hari 12 — Membandingkan Diri: Kebiasaan yang Ingin Kuhentikan

 



Aku tidak selalu sadar kapan kebiasaan ini dimulai.
Yang kutahu, ia sering datang diam-diam—saat aku menggulir layar, melihat hidup orang lain yang tampak rapi, utuh, dan sampai. Lalu tanpa diminta, hatiku ikut mengukur: aku di mana?

Aku membandingkan karierku dengan pencapaian orang lain. Membandingkan hidup pribadiku dengan standar yang terus bergeser. Membandingkan kecepatanku dengan ritme orang lain. Dan hampir selalu, aku kalah dalam perbandingan yang tidak adil itu.

Yang tidak tampak di layar adalah malam-malam panjang yang kulalui sendirian. Doa-doa yang kuucapkan dengan suara paling pelan. Keputusan-keputusan sulit yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun. Tapi semua itu terasa tidak berarti ketika dibandingkan dengan potongan hidup orang lain yang hanya menampilkan hasil akhirnya.

Aku lelah hidup dengan perasaan tertinggal yang terus kupelihara sendiri.

Hari ini aku ingin mengakui: membandingkan diri tidak membuatku lebih baik. Ia hanya membuatku lupa siapa diriku. Membuatku meremehkan langkah-langkah kecil yang sudah kuambil. Membuatku merasa hidupku kurang, padahal sebenarnya hanya berbeda.

Aku tahu, berhenti membandingkan diri bukan perkara mudah. Ada hari-hari ketika kebiasaan itu muncul lagi—terutama saat aku lelah, sendiri, atau merasa tidak cukup. Tapi hari ini aku ingin mengambil jarak. Menutup layar. Menghadirkan diriku sendiri kembali.

Aku ingin belajar menghormati jalanku. Menghargai proses yang mungkin tidak terlihat, tapi nyata. Dan mempercayai bahwa apa yang sedang kubangun—meski pelan—tetap punya nilai.

Hari ini, aku tidak menuntut diriku untuk kebal terhadap perbandingan.
Aku hanya ingin lebih sadar ketika ia datang.
Lalu memilih diriku kembali.

0 komentar: