🌱 Seri Planning Study & Career #10 — Belajar Mendengarkan Diri Sendiri di Tengah Banyak Nasihat

 



Setelah lulus, satu hal yang sering datang bersamaan dengan ucapan selamat adalah nasihat. Datangnya tidak selalu diminta, tapi hampir selalu ada. Dari keluarga, dosen, senior, teman, bahkan orang yang baru bertemu sekali. Semua berniat baik. Semua ingin membantu. Tapi entah kenapa, semakin banyak nasihat, kepala justru semakin bising.

Ada yang berkata, “Kerja dulu saja, nanti bisa lanjut studi.”
Ada yang bilang, “Kesempatan S2 nggak datang dua kali.”
Ada yang mengingatkan soal usia.
Ada yang menekankan soal stabilitas.
Ada yang membandingkan dengan jalan hidup orang lain.

Di tengah semua itu, suara diri sendiri sering menjadi yang paling pelan.

Aku pernah berada di fase ini—mendengarkan banyak pendapat sampai lupa bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya aku butuhkan. Setiap nasihat terasa masuk akal. Setiap saran terdengar logis. Tapi tidak semuanya terasa selaras. Ada yang cocok di kepala, tapi berat di dada.

Di sinilah belajar mendengarkan diri sendiri menjadi keterampilan yang penting, sekaligus sulit.


🌿 Nasihat Bukan Masalahnya, Kebisingan yang Perlu Diatur

Perlu diakui, kita tidak hidup di ruang hampa. Nasihat ada karena kita hidup dalam relasi. Masalahnya bukan pada nasihat itu sendiri, tapi pada cara kita menerimanya tanpa filter.

Tidak semua nasihat relevan dengan konteks hidup kita saat ini. Tidak semua pengalaman orang lain bisa dipindahkan begitu saja ke hidup kita. Yang sering terjadi, kita menyerap semuanya, lalu menyalahkan diri sendiri karena bingung.

Padahal, kebingungan itu wajar ketika terlalu banyak suara masuk tanpa jeda.



🌿 Mengenali Suara Diri Sendiri Itu Proses, Bukan Bakat

Mendengarkan diri sendiri bukan berarti langsung tahu jawabannya. Ia lebih sering berupa kepekaan kecil: perasaan tidak nyaman, rasa berat, atau justru tenang ketika memikirkan satu pilihan tertentu.

Beberapa tanda bahwa suatu pilihan mungkin selaras dengan dirimu:

  • kamu lelah memikirkannya, tapi tidak ingin menghindarinya

  • kamu cemas, tapi tetap ingin belajar menjalaninya

  • kamu merasa takut, tapi bukan tertekan

Sebaliknya, ada pilihan yang terdengar “baik”, tapi membuat tubuhmu menegang setiap kali dibayangkan. Itu bukan berarti salah, tapi mungkin belum waktunya—atau bukan untukmu.

Belajar mendengarkan diri sendiri berarti memberi ruang pada sinyal-sinyal halus ini, bukan menekannya demi terlihat “pasti”.


🌿 Cara Praktis Menyaring Nasihat (Agar Tidak Tenggelam)

Ada beberapa langkah sederhana yang bisa membantu, tanpa harus menutup diri dari orang lain:

Pertama, dengarkan tanpa langsung memutuskan.
Tidak semua nasihat harus dijawab hari itu juga. Kamu boleh berkata, “Aku pikirkan dulu.”

Kedua, tanyakan konteks di balik nasihat itu.
Nasihat selalu lahir dari pengalaman hidup seseorang. Pengalaman itu valid—untuk mereka. Tugasmu adalah menilai apakah konteksnya mirip dengan hidupmu.

Ketiga, kembalikan pertanyaan ke diri sendiri.
Setelah mendengar nasihat, tanyakan pelan:
“Jika tidak ada yang melihat, apakah aku tetap ingin memilih ini?”

Pertanyaan ini sering lebih jujur daripada daftar pro–kontra.


🌿 Mendengarkan Diri Sendiri Bukan Berarti Egois

Banyak orang takut mendengarkan diri sendiri karena khawatir dianggap keras kepala atau tidak tahu diri. Padahal, memilih dengan sadar bukanlah penolakan terhadap orang lain. Ia adalah bentuk tanggung jawab atas hidup sendiri.

Kita tetap bisa menghormati nasihat orang lain tanpa harus mengikutinya. Kita tetap bisa mendengar tanpa harus menyetujui. Dan kita tetap bisa ragu tanpa harus merasa gagal.

Karier dan studi bukan keputusan kecil. Dampaknya panjang. Maka wajar jika proses memilihnya juga perlu waktu dan keheningan.


🌿 Pertanyaan Reflektif (Bisa Jadi Pegangan)

Jika kamu sedang berada di fase ini, mungkin kamu bisa menyimpan beberapa pertanyaan berikut, tanpa harus menjawabnya sekarang:

  • Suara siapa yang paling sering aku dengarkan saat ini?

  • Kapan terakhir kali aku benar-benar mendengar diriku sendiri?

  • Pilihan mana yang terasa paling jujur, meski belum tentu paling aman?

  • Apa yang sebenarnya sedang aku takuti: salah memilih, atau mengecewakan orang lain?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu jelas. Tapi ia akan membantumu membedakan mana suara luar, mana suara dalam.


🌿 Penutup: Keheningan Juga Bentuk Kebijaksanaan

Di dunia yang penuh saran, keberanian terbesar kadang bukan memilih cepat, tetapi berani diam sebentar. Diam untuk mendengar. Diam untuk merasakan. Diam untuk jujur.

Mendengarkan diri sendiri tidak akan membuat jalanmu paling cepat. Tapi sering kali, ia membuat jalanmu lebih bisa dijalani.

Dan dalam hidup setelah lulus, itu jauh lebih penting.

0 komentar: