Seri Perang di Zaman Rasulullah ﷺ (Pra-Ramadan – Bulan Rajab)
Setelah dua ekspedisi awal—Waddan dan Buwath—yang berlangsung tanpa bentrokan, Ghazwah Safwan menghadirkan nuansa yang berbeda. Bukan karena terjadi pertempuran besar, tetapi karena motifnya sangat jelas: menjaga kehormatan dan keamanan Madinah. Inilah momen ketika Rasulullah ﷺ menunjukkan bahwa kesabaran bukan berarti membiarkan kezaliman berulang tanpa sikap.
Ghazwah Safwan sering disebut “Badr Pertama”, bukan karena terjadi perang besar seperti Badar Kubra, tetapi karena lokasinya berada di wilayah Badr. Peristiwa ini menjadi jembatan psikologis dan strategis menuju konflik besar yang akan datang.
Latar Peristiwa: Serangan ke Madinah
Tidak lama setelah Ghazwah Buwath, seorang tokoh Quraisy bernama Kurz bin Jabir al-Fihri melakukan penyerbuan mendadak ke pinggiran Madinah. Ia merampas ternak kaum Muslimin—unta dan kambing—lalu melarikan diri dengan cepat menuju arah Mekah.
Serangan ini mungkin tampak kecil jika dilihat dari skala material. Namun dalam konteks politik dan keamanan, ini adalah provokasi serius. Madinah adalah rumah baru kaum Muslimin, tempat mereka membangun kehidupan dengan susah payah setelah hijrah. Membiarkan serangan seperti ini tanpa respons akan memberi pesan bahwa Madinah lemah dan bisa diganggu kapan saja.
Di sinilah peran kepemimpinan Rasulullah ﷺ terlihat sangat tegas.
Respons Rasulullah ﷺ: Cepat dan Terukur
Begitu menerima kabar penyerangan, Rasulullah ﷺ tidak menunda-nunda keputusan. Beliau segera memimpin pasukan untuk mengejar Kurz bin Jabir. Ini bukan ekspedisi balas dendam, melainkan langkah perlindungan wilayah.
Beberapa hal penting dari respons ini:
-
Rasulullah ﷺ memimpin langsung ekspedisi
-
Tidak menunggu eskalasi lebih besar
-
Tidak menyerang secara membabi buta
-
Fokus pada pelaku, bukan pada kabilah secara umum
Pasukan Muslim mengejar hingga wilayah Safwan di dekat Badr, namun Kurz berhasil meloloskan diri. Tidak terjadi pertempuran fisik. Tidak ada darah tertumpah.
Namun, pesan strategisnya sangat kuat: Madinah tidak akan diam jika diserang.
Makna “Badr Pertama”: Kehadiran yang Menggentarkan
Mengapa peristiwa ini disebut Badr Pertama? Karena untuk pertama kalinya, wilayah Badr—yang kelak menjadi saksi kemenangan besar—dimasuki oleh pasukan Muslim dalam konteks militer nyata.
Meski tidak ada pertempuran, Quraisy kini melihat bahwa:
-
Rasulullah ﷺ siap bergerak cepat
-
Madinah memiliki sistem keamanan
-
Gangguan kecil pun akan direspons serius
Ini bukan tentang menang atau kalah, tetapi tentang menjaga wibawa.
Dalam kepemimpinan, ada saatnya bersabar, dan ada saatnya menunjukkan ketegasan. Rasulullah ﷺ menempatkan keduanya secara proporsional.
Perbedaan Penting: Agresi vs Perlindungan
Ghazwah Safwan sering disalahpahami sebagai tindakan agresif. Padahal, jika kita menelaah urutannya:
-
Umat Islam diserang lebih dulu
-
Harta mereka dirampas
-
Keamanan kota terancam
Respons Rasulullah ﷺ adalah bentuk pertahanan aktif, bukan agresi.
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi korban yang pasif. Kesabaran bukan berarti membiarkan kehormatan diinjak-injak. Ada titik di mana diam berubah menjadi kelemahan, dan Rasulullah ﷺ tidak membiarkan umatnya jatuh ke titik itu.
Dimensi Pendidikan bagi Para Sahabat
Bagi para sahabat, Ghazwah Safwan adalah pelajaran penting:
-
Kesiapsiagaan bukan hanya wacana
-
Komando harus diikuti dengan cepat
-
Melindungi komunitas adalah tanggung jawab bersama
Mereka belajar bahwa perjuangan tidak selalu berupa peperangan besar. Terkadang, ia hadir dalam bentuk patroli, penjagaan, dan respon cepat terhadap ancaman.
Ini adalah fase pembentukan mental umat: dari komunitas yang dulu tertindas di Mekah, menjadi masyarakat yang mampu menjaga dirinya sendiri.
Rajab dan Nilai Menjaga Batas
Rajab adalah bulan haram, bulan yang dimuliakan. Namun, Islam tidak menjadikan bulan haram sebagai alasan untuk membiarkan kezaliman. Yang dilarang adalah memulai agresi, bukan melindungi diri dari serangan.
Ghazwah Safwan mengajarkan keseimbangan yang indah:
-
Menjaga kehormatan bulan suci
-
Tanpa mengorbankan keamanan umat
Ini relevan dalam kehidupan kita hari ini. Ada saatnya kita menahan diri, ada saatnya kita berkata tegas. Keduanya membutuhkan hikmah.
Refleksi Pribadi: Saat Diam Tidak Lagi Bijak
Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada situasi seperti Safwan. Ada batas-batas yang jika dilanggar, tidak cukup disikapi dengan diam. Islam tidak mengajarkan kita menjadi agresif, tetapi juga tidak membenarkan sikap pasif yang merugikan diri dan orang lain.
Menjadi lembut tidak berarti kehilangan ketegasan. Menjadi sabar tidak berarti menghapus keberanian.
Penutup: Langkah Kecil Menuju Peristiwa Besar
Ghazwah Safwan mungkin tampak kecil dalam catatan sejarah. Namun tanpanya, peta konflik di Jazirah Arab akan berbeda. Ia adalah sinyal awal bahwa Madinah adalah wilayah yang dijaga, dan Rasulullah ﷺ adalah pemimpin yang mampu menyeimbangkan kasih sayang dengan ketegasan.
Dari Waddan, Buwath, hingga Safwan, kita melihat pola yang konsisten: Islam membangun kekuatan secara bertahap, beretika, dan penuh kendali diri.

.jpg)

0 komentar: