Aku pernah berada di fase ketika kata jodoh terasa seperti beban.
Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena terlalu banyak suara di sekitarnya. Suara yang bertanya. Menilai. Menyimpulkan. Seolah hidup bisa diringkas menjadi satu kolom status.
Padahal, yang kucari sejak awal bukan sekadar status.
Aku mencari ketenangan.
Aku ingin hubungan yang tidak membuatku mengecil. Yang tidak menuntutku menjadi versi lain agar layak dipilih. Aku ingin dicintai tanpa harus selalu kuat, dihargai tanpa harus selalu berprestasi. Aku ingin pulang—bukan hanya ke rumah, tapi ke rasa aman.
Ada masa ketika aku bertanya-tanya, apakah keinginanku terlalu tinggi. Apakah aku terlalu memilih. Apakah aku seharusnya lebih “realistis”. Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar: menunggu dengan sadar lebih baik daripada tergesa lalu lelah.
Aku tidak ingin jodoh yang hanya hadir untuk mengisi kekosongan. Aku ingin pertemuan yang membuat hidupku lebih utuh, bukan sekadar terlihat lengkap. Jika harus menunggu sedikit lebih lama demi itu, aku ingin belajar menunggu dengan tenang—bukan dengan cemas.
Hari ini, aku mencoba berdamai dengan fakta bahwa waktu Tuhan tidak selalu sejalan dengan linimasa sosial. Dan itu tidak apa-apa. Aku tidak tertinggal. Aku sedang dijaga.
Aku masih berdoa, tentu. Tapi doaku kini lebih sederhana:
jika datang, semoga membawa ketenangan.
jika belum, semoga aku tetap utuh.
Dan mungkin, di situlah letak kedewasaan—ketika aku tidak lagi mengukur hidup dari apa yang belum ada, tapi dari siapa diriku saat ini.


0 komentar: