🌱 Seri Planning Study & Career #13 — Bekerja Sambil Mencari Arah: Pilihan yang Sering Diremehkan

 



Ada satu fase yang jarang dirayakan, bahkan sering dianggap setengah-setengah: bekerja sambil mencari arah. Tidak sepenuhnya “sudah tahu mau ke mana”, tapi juga tidak diam. Bergerak, meski belum pasti. Dan anehnya, fase ini sering dipandang sebagai kurang ambisius.

Padahal, bagi banyak orang, inilah fase yang paling jujur.

Bekerja sambil mencari arah berarti kamu memilih hidup berjalan sambil belajar dari dalamnya. Kamu membayar tagihan, membangun rutinitas, berinteraksi dengan dunia nyata—sambil perlahan memahami apa yang cocok dan apa yang tidak. Ini bukan rencana cadangan; ini strategi adaptif.

Yang sering diremehkan dari fase ini adalah nilai belajarnya. Di pekerjaan pertama (atau kedua), kamu belajar hal-hal yang tidak tertulis di silabus: ritme kerja, dinamika tim, cara menghadapi konflik, batas energi, dan makna “cukup”. Kamu juga belajar tentang dirimu sendiri—tentang hal apa yang membuatmu tumbuh dan hal apa yang menguras habis.

Tentu ada tantangannya. Waktu terasa terbagi. Energi tidak selalu tersisa untuk eksplorasi. Ada hari-hari ketika pulang kerja dan bertanya, “Aku ke mana dari sini?” Namun justru di sanalah refleksi menjadi konkret. Arah tidak lagi abstrak; ia dibentuk oleh pengalaman harian.

Bekerja sambil mencari arah bukan berarti tanpa tujuan. Ia berarti tujuanmu sedang diperjelas oleh realitas. Banyak keputusan matang lahir bukan dari perenungan panjang saja, tetapi dari benturan halus dengan kehidupan sehari-hari. Kamu mulai tahu: lingkungan seperti apa yang kamu butuhkan, ritme apa yang realistis, dan kompetensi apa yang ingin kamu kembangkan.

Jika kamu berada di fase ini, beberapa penanda bahwa kamu sedang melangkah (bukan tersesat):

  • kamu mencatat pelajaran kecil dari pekerjaan sehari-hari

  • kamu menyisakan waktu (meski sedikit) untuk refleksi

  • kamu berani mengakui ketidakcocokan tanpa menyalahkan diri

  • kamu membuka kemungkinan, bukan menutup pintu

Yang penting adalah sengaja. Sengaja belajar dari pengalaman. Sengaja meninjau ulang arah setiap beberapa bulan. Sengaja bertanya, “Apa yang ingin kulanjutkan, dan apa yang tidak?”

Fase ini tidak glamor. Tidak selalu mudah dijelaskan ke orang lain. Tapi ia sering menjadi fondasi yang kuat—karena arah yang lahir dari pengalaman biasanya lebih tahan lama daripada arah yang lahir dari tekanan.

Pada akhirnya, bekerja sambil mencari arah adalah bentuk keberanian yang sunyi. Kamu memilih bergerak tanpa berpura-pura sudah tahu segalanya. Dan itu, dalam dunia setelah lulus, adalah kebijaksanaan yang jarang dihargai.

0 komentar: