Seri 11: Ghazwah Dzatur Riqa’ — Berjuang dalam Keterbatasan

 

Seri Perang di Zaman Rasulullah ï·º (Pra-Ramadan – Bulan Rajab)



Tidak semua perjuangan dicatat dengan gemerlap kemenangan. Ada fase-fase sunyi yang justru membentuk ketangguhan umat. Ghazwah Dzatur Riqa’ adalah salah satunya—sebuah ekspedisi yang nyaris tanpa bentrokan, namun sarat dengan pelajaran tentang ketabahan, kesiapsiagaan, dan ibadah di tengah keterbatasan.

Peristiwa ini berlangsung di wilayah Najd, dipimpin langsung oleh Rasulullah ï·º. Ia datang setelah rangkaian ujian internal dan eksternal di Madinah, ketika umat Islam masih membangun fondasi sosial, politik, dan spiritualnya.


Mengapa Disebut “Dzatur Riqa’”?

Nama Dzatur Riqa’ (ذات الرقاع) secara harfiah bermakna “yang memiliki tambalan”. Para sejarawan menjelaskan, penamaan ini merujuk pada kondisi pasukan Muslim yang menambal alas kaki mereka dengan kain karena perjalanan panjang dan medan yang keras. Ada pula yang menyebut tambalan pada bendera atau perisai. Apa pun penjelasannya, maknanya sama: keterbatasan adalah tema utama ekspedisi ini.

Di zaman ketika perang sering diidentikkan dengan kemewahan logistik, Dzatur Riqa’ menghadirkan wajah lain jihad: bertahan dengan yang ada.


Latar Keamanan: Ancaman yang Tidak Selalu Terlihat

Ekspedisi ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi serangan dari beberapa kabilah di Najd yang menunjukkan sikap bermusuhan. Tidak ada provokasi terbuka seperti perampasan harta atau serangan langsung. Namun Rasulullah ï·º membaca tanda-tanda awal: niat yang mengeras dan ketegangan yang meningkat.

Di sinilah kita melihat kecermatan kepemimpinan beliau. Islam tidak menunggu ancaman menjadi bencana. Pencegahan adalah bagian dari tanggung jawab.


Perjalanan Berat dan Disiplin Pasukan

Perjalanan menuju Najd melelahkan. Medan kering, panas, dan jarak yang panjang menguras tenaga. Perlengkapan sangat terbatas. Namun disiplin dan ketaatan menjadi perekat pasukan.

Tidak ada keluhan yang dicatat sejarah. Tidak ada tuntutan fasilitas. Yang ada adalah ketundukan pada komando dan kesadaran akan tujuan bersama: menjaga keamanan umat dan stabilitas Madinah.


Shalat Khauf: Ibadah di Tengah Ancaman

Salah satu pelajaran paling penting dari Ghazwah Dzatur Riqa’ adalah diturunkannya praktik Shalat Khauf—shalat dalam kondisi takut. Ketika pasukan berada di wilayah rawan, Rasulullah ï·º mengajarkan cara shalat yang menjaga ibadah tanpa mengabaikan kewaspadaan.

Ini sangat revolusioner. Islam tidak pernah memisahkan spiritualitas dari realitas. Ibadah tidak dihentikan karena ancaman, dan keamanan tidak diabaikan demi ritual. Keduanya berjalan seiring, dengan pengaturan yang bijak.

Shalat Khauf menegaskan:

Dalam kondisi paling genting sekalipun, hubungan dengan Allah tetap dijaga.


Tidak Ada Pertempuran, Ada Kemenangan Makna

Seperti beberapa ekspedisi sebelumnya, tidak terjadi pertempuran besar. Kabilah-kabilah yang berpotensi bermusuhan memilih menghindar. Secara kasat mata, tidak ada “hasil” yang bisa dipamerkan.

Namun justru di sinilah kemenangan makna itu lahir:

  • Ancaman berhasil diredam tanpa darah

  • Wibawa umat terjaga

  • Pasukan terlatih dalam kesabaran dan kesiapan

Dalam strategi modern, ini disebut deterrence. Dalam bahasa iman, ini adalah hikmah yang menutup pintu kerusakan sebelum terbuka.


Kepemimpinan Rasulullah ï·º: Hadir di Tengah Kesulitan

Rasulullah ï·º tidak memimpin dari kejauhan. Beliau hadir, berjalan bersama, dan merasakan keterbatasan yang sama. Ini membangun kepercayaan yang tidak bisa dibeli oleh otoritas semata.

Kepemimpinan seperti ini melahirkan loyalitas yang tulus. Para sahabat tidak hanya taat karena perintah, tetapi karena teladan nyata.


Pelajaran Spiritual: Jihad Tanpa Sorotan

Dzatur Riqa’ mengajarkan bahwa jihad tidak selalu heroik. Ada jihad yang tidak disorot, tidak diabadikan dengan syair, tidak dirayakan. Namun justru jihad jenis inilah yang membentuk karakter.

  • Sabar tanpa tepuk tangan

  • Taat tanpa kepastian hasil

  • Ibadah tanpa kenyamanan

Bukankah ini sangat relevan dengan latihan ruhani menjelang Ramadhan?


Rajab dan Keterbatasan yang Mendidik

Rajab adalah bulan persiapan. Tidak semua orang memasukinya dengan energi penuh. Ada yang lelah, ada yang terbatas, ada yang merasa “belum siap”.

Dzatur Riqa’ datang sebagai penghibur sekaligus pengingat:
Allah tidak menunggu kesempurnaan untuk menerima ketaatan.
Yang Dia lihat adalah kesungguhan dalam keterbatasan.


Refleksi Pribadi: Saat Kita Tetap Melangkah

Dalam hidup, mungkin kita sedang berada di fase Dzatur Riqa’:

  • Bekal pas-pasan

  • Jalan panjang

  • Hasil belum terlihat

Islam mengajarkan untuk tetap melangkah—dengan tambalan, dengan kesederhanaan, dengan doa yang tidak putus.


Penutup

Ghazwah Dzatur Riqa’ adalah kisah tentang iman yang berjalan di atas tanah panas, dengan kaki yang lelah namun hati yang teguh. Ia mengajarkan bahwa keselamatan umat sering dijaga oleh langkah-langkah sunyi, bukan oleh kemenangan yang bising.

0 komentar: