Hari 13 — Aku Bukan Tertinggal, Aku Sedang di Jalurku

 



Ada masa ketika aku begitu yakin bahwa aku tertinggal. Bukan karena aku berhenti berjalan, tapi karena arahku tidak sama dengan kebanyakan orang. Setiap kali melihat ke samping, aku merasa langkahku terlalu pelan, pilihanku terlalu rumit, hidupku terlalu “berbeda”.

Dan perbedaan itu dulu terasa seperti kesalahan.

Aku mulai menyadari sesuatu yang penting: tertinggal dan berbeda sering kali disalahartikan sebagai hal yang sama. Padahal tidak. Tertinggal berarti diam. Sedangkan aku—aku bergerak, hanya tidak ke arah yang sama.

Jalanku menuntut waktu lebih lama karena aku ingin memahami, bukan sekadar sampai. Aku memilih berhenti sejenak untuk memastikan niatku, bukan karena aku takut melangkah. Aku menolak beberapa hal yang tampak “aman” karena tidak sejalan dengan nilai yang kupegang. Dan itu keputusan yang tidak selalu mudah.

Ada hari-hari ketika aku iri. Ada hari-hari ketika aku lelah menjelaskan. Ada hari-hari ketika aku ingin sekali menyederhanakan hidup agar tampak normal. Tapi setiap kali aku mencoba memaksa diri masuk ke jalur orang lain, aku justru kehilangan arah.

Hari ini aku belajar mempercayai jalanku sendiri. Bukan karena aku yakin semuanya akan mudah, tapi karena aku tahu inilah jalan yang membuatku tetap utuh. Jalan yang mungkin sepi, tapi jujur. Lambat, tapi sadar.

Aku tidak tertinggal.
Aku sedang berjalan sesuai kemampuanku, sesuai keyakinanku, sesuai waktuku.

Dan mungkin, justru di situlah letak keberanianku.

0 komentar: