Aku menulis ini sambil jujur mengakui satu hal yang tidak selalu berani kuucapkan:
aku sering tidak suka pada diriku sendiri.
Bukan benci, tapi lelah. Lelah melihat diriku masih berada di titik yang sama, sementara waktu terus berjalan. Lelah menghadapi cermin dan bertanya apakah aku sudah cukup—cukup berusaha, cukup sabar, cukup pantas. Ada hari-hari ketika aku merasa menjadi versi yang “kurang”, meski aku sudah memberikan yang terbaik yang aku bisa.
Hari ini aku mencoba berhenti bertanya kenapa aku belum seperti itu.
Aku bertanya hal yang lebih sunyi: apa yang sebenarnya kubutuhkan sekarang?
Versi diriku hari ini tidak sekuat yang kuinginkan. Kadang ragu. Kadang mudah sedih. Kadang ingin menyerah, meski tidak benar-benar pergi. Ia bukan versi ideal yang dulu kubayangkan—yang sudah rapi hidupnya, tenang jawabannya, dan ringan langkahnya.
Tapi versi ini jujur.
Ia tahu kapan lelah.
Ia tahu kapan harus berhenti membandingkan diri.
Ia tahu kapan perlu menangis diam-diam agar bisa bangun lagi esok hari.
Aku sedang belajar menerima bahwa diriku hari ini bukan kegagalan dari diriku yang kemarin. Ia adalah hasil dari semua yang sudah kulalui—kehilangan, penantian, doa-doa yang belum selesai. Dan menerima bukan berarti menyerah. Menerima berarti berhenti berperang.
Aku ingin berhenti menunda kasih sayang sampai aku “lebih pantas”. Aku ingin memberi ruang pada diriku sekarang, bukan hanya pada versi masa depan yang belum tentu datang sesuai rencana.
Hari ini, aku tidak berjanji akan selalu kuat.
Aku hanya berjanji untuk tidak meninggalkan diriku sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, janji itu terasa cukup.



0 komentar: