Hari 18 — Ketika Lelah Spiritual Datang Diam-diam

 



Ada lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan tidur atau libur sejenak.
Lelah yang datang diam-diam, tanpa suara, tanpa drama—tapi menetap lama di dada. Aku menyebutnya lelah spiritual.

Di fase ini, aku tetap berdoa, tapi rasanya hampa. Tetap menjalankan rutinitas, tapi hatiku tidak selalu ikut hadir. Ayat-ayat yang dulu menenangkan kini terasa lewat begitu saja. Bukan karena aku tidak percaya, tapi karena aku terlalu lelah untuk merasa.

Aku sempat menyalahkan diri sendiri.
Merasa imanku menurun.
Merasa aku kurang sungguh-sungguh.
Merasa ada yang salah denganku.

Padahal, mungkin aku hanya manusia yang kelelahan.

Lelah spiritual tidak selalu berarti jauh dari Tuhan. Kadang justru karena terlalu lama menahan, terlalu sering berharap, terlalu jarang jujur pada rasa sendiri. Aku belajar bahwa iman juga butuh dirawat, bukan dipaksa. Butuh jeda, bukan tuntutan.

Hari ini aku tidak memaksa diriku untuk khusyuk. Aku hanya hadir. Duduk lebih lama. Mengakui lelahku apa adanya. Mengatakan, “Aku capek, tapi aku masih ingin di sini.” Dan mungkin, itu sudah cukup sebagai bentuk kedekatan.

Aku mulai percaya bahwa Tuhan tidak menilai dari seberapa kuat suaraku berdoa, tapi dari kejujuran hatiku saat datang. Bahkan ketika aku datang dengan tangan kosong dan mata yang lelah.

Jika hari ini aku belum merasa tenang, aku memilih untuk tidak menjauh. Aku akan tetap mendekat dengan caraku sendiri—pelan, sederhana, apa adanya.

Karena lelah tidak selalu tanda iman melemah.
Kadang ia hanya tanda bahwa aku terlalu lama berjalan sendirian.

0 komentar: