Ada satu keinginan yang pelan-pelan tumbuh seiring bertambahnya usia dan pengalaman:
aku ingin dicintai tanpa harus mengecilkan diri.
Aku lelah menyesuaikan diri sampai lupa siapa aku. Lelah menurunkan standar demi terlihat mudah diterima. Lelah menahan pendapat, mimpi, dan prinsip hanya agar tidak dianggap “terlalu”. Terlalu mandiri. Terlalu sibuk. Terlalu serius. Terlalu banyak berpikir.
Aku pernah mengira, agar dicintai, aku harus menjadi versi yang lebih sunyi dari diriku sendiri. Tidak terlalu berharap. Tidak terlalu ingin. Tidak terlalu butuh. Tapi hubungan yang lahir dari pengecilan diri selalu menyisakan luka—karena di dalamnya, aku tidak pernah benar-benar hadir.
Hari ini aku tahu: cinta yang sehat tidak meminta kita berkurang. Ia memberi ruang untuk bertumbuh. Ia tidak takut pada cahaya orang lain. Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai ancaman.
Aku ingin hubungan di mana aku bisa menjadi diri sendiri—dengan semua kompleksitasnya. Dengan ambisi dan keraguanku. Dengan semangat belajarku dan hari-hari lelahku. Aku ingin dicintai sebagai manusia utuh, bukan potongan yang sudah dipoles agar nyaman dilihat.
Jika itu berarti aku harus menunggu lebih lama, aku ingin menunggu dengan harga diri yang tetap utuh. Aku tidak ingin tiba di suatu hubungan sambil membawa penyesalan karena pernah mengkhianati diriku sendiri.
Hari ini, aku tidak lagi meminta untuk dipilih.
Aku ingin bertemu.
Dengan seseorang yang tidak ingin mengubahku, tapi berjalan bersamaku.
Dan jika pertemuan itu belum datang, aku ingin tetap berdiri sebagai diriku—utuh, jujur, dan cukup.


0 komentar: