Hari 15 — Doa yang Tidak Berani Kuucapkan Keras-keras

 



Ada doa-doa yang hanya berani kusimpan di dalam hati.
Bukan karena aku tidak percaya, tapi karena aku takut jika mengucapkannya dengan lantang, lalu harus menerima kenyataan bahwa jawabannya belum juga datang.

Doa-doa itu sederhana, sebenarnya. Tentang ingin dimengerti tanpa harus menjelaskan terlalu banyak. Tentang ingin ditemani tanpa merasa merepotkan. Tentang ingin hidup yang tenang—bukan yang terlihat hebat di mata orang lain, tapi yang membuatku bisa bernapas lega setiap malam.

Aku sering menyebut doa-doa yang aman. Yang terdengar baik, pantas, dan tidak terlalu personal. Tapi ada doa-doa lain yang lebih jujur, lebih rapuh. Doa tentang lelah yang tak ingin lagi dipendam. Doa tentang harapan yang mulai ragu. Doa tentang takut jika harus menjalani hidup ini sendirian lebih lama dari yang kubayangkan.

Aku tidak selalu tahu bagaimana cara memintanya dengan benar. Kadang doanya hanya berupa helaan napas panjang. Kadang berupa air mata yang jatuh tanpa kata. Kadang hanya keheningan yang kupeluk erat-erat di sepertiga malam.

Hari ini aku belajar bahwa Tuhan tidak menunggu doaku rapi. Ia tidak menuntut keberanian yang sempurna. Ia tahu isi hatiku bahkan sebelum aku berani menyusunnya menjadi kalimat. Dan mungkin, selama ini doa-doa yang tidak berani kuucapkan itulah yang paling jujur.

Aku ingin belajar berdoa tanpa menyensor diri. Tanpa merasa harus terlihat kuat. Tanpa takut dianggap kurang bersyukur. Karena meminta dengan jujur bukan tanda lemah—itu tanda percaya.

Hari ini, aku mengizinkan diriku berdoa apa adanya.
Dengan suara pelan.
Dengan hati yang terbuka.
Dengan harap yang masih kujaga.

Dan jika pun jawabannya belum datang, setidaknya aku tahu: doaku sudah sampai.

0 komentar: