Pertanyaan tentang umur sering datang tanpa diundang. Datangnya halus, tapi menetap lama. Ia muncul saat mengisi formulir pendaftaran, saat membaca profil mahasiswa lain, atau saat mendengar kalimat, “Sekarang waktunya kerja, bukan sekolah lagi.”
Lalu kita mulai menghitung: usia sekarang, durasi studi, dan usia saat lulus nanti.
Ketakutan “ketinggalan umur” terasa nyata karena umur itu konkret—angka yang tidak bisa ditawar. Tapi yang jarang kita periksa adalah asumsi di balik ketakutan itu: asumsi bahwa hidup punya satu timeline yang benar untuk semua orang.
Padahal, jika kita lihat lebih dekat, banyak keputusan besar tidak pernah rapi mengikuti usia. Ada yang matang lebih cepat, ada yang baru menemukan arah setelah berputar. Ada yang mulai ulang, ada yang menyempurnakan, ada yang bergeser pelan. Umur berjalan satu arah, tapi kematangan tidak selalu sejalan dengannya.
Dalam konteks studi lanjut, pertanyaannya bukan “berapa umurku saat lulus”, melainkan:
-
Apa yang kubawa saat belajar? (pengalaman, fokus, ketahanan)
-
Apa yang kuharapkan dari prosesnya? (kedalaman, kejelasan arah)
-
Apa yang siap kukomitmenkan? (waktu, energi, sumber daya)
Sering kali, usia yang lebih matang justru membawa keuntungan: kemampuan mengatur waktu, disiplin belajar yang realistis, dan kejelasan tujuan. Belajar tidak lagi sekadar mengejar nilai, tapi menyusun pemahaman. Tantangannya ada—tanggung jawab lebih banyak, energi terbagi—namun itu bisa diantisipasi dengan strategi yang tepat.
Yang membuat “ketinggalan umur” terasa menakutkan biasanya adalah perbandingan. Kita membandingkan diri dengan versi orang lain—yang konteks hidupnya berbeda. Padahal, pilihan yang sehat selalu kontekstual. Ia mempertimbangkan kondisi finansial, kesehatan mental, dukungan sosial, dan tujuan jangka menengah.
Cobalah menggeser fokus dari angka ke kesiapan:
-
Apakah aku punya alasan yang jelas untuk belajar sekarang?
-
Apakah fase ini memungkinkan aku bertahan secara mental?
-
Apakah studi ini membuka pintu yang memang ingin kubuka?
Jika jawabannya ya, maka umur bukan penghalang—ia hanya variabel.
Belajar tidak pernah terlambat jika ia membawa kejelasan. Yang berisiko justru melangkah hanya demi mengejar “usia ideal”, tanpa kesiapan. Karena pada akhirnya, yang kita jalani bukan usia di ijazah, melainkan hari-hari di dalam proses.


0 komentar: