Hari 14 — Apa Arti “Cukup” Bagiku Sekarang

 



Dulu, kata cukup terasa seperti kata yang terlalu kecil untuk mimpi-mimpiku. Cukup seolah berarti berhenti berharap. Berhenti tumbuh. Berhenti menginginkan lebih. Aku mengira, jika aku berkata “cukup”, maka aku sedang menyerah pada hidup.

Hari ini, maknanya berubah.

Cukup bagiku sekarang bukan tentang memiliki segalanya, tapi tentang tidak terus-menerus merasa kurang. Bukan tentang sampai di titik akhir, tapi tentang berhenti menyiksa diri di tengah perjalanan. Cukup adalah saat aku bisa bernapas tanpa merasa dikejar.

Cukup berarti aku mengizinkan diriku beristirahat tanpa rasa bersalah. Menghargai pencapaian kecil tanpa harus membandingkannya dengan milik orang lain. Mengakui bahwa tenang adalah kebutuhan, bukan kemewahan.

Aku masih punya mimpi. Masih ada doa-doa yang kusebutkan setiap malam. Tapi aku tidak ingin lagi menjadikan mimpi sebagai alasan untuk menunda kebahagiaan hari ini. Aku ingin menginginkan masa depan tanpa membenci masa kini.

Cukup juga berarti tahu kapan harus berhenti memaksa. Tidak semua hal harus dipercepat. Tidak semua hal harus selesai sekarang. Ada waktu untuk berjuang, dan ada waktu untuk menerima.

Hari ini, aku tidak menutup pintu harapan.
Aku hanya menata ulang caraku berharap.

Dan untuk pertama kalinya, kata cukup terasa seperti pelukan—bukan batasan.

0 komentar: