Seri Perang di Zaman Rasulullah ï·º (Pra-Ramadan – Bulan Rajab)
Jika seri pertama mengajak kita meluruskan makna jihad dan perang dalam Islam, maka pada seri kedua ini kita mulai menyentuh peristiwa nyata—namun dengan satu catatan penting: langkah awal Rasulullah ï·º dalam urusan militer justru berlangsung tanpa peperangan. Tidak ada bentrokan senjata. Tidak ada darah yang tertumpah. Yang ada adalah kewaspadaan, strategi, dan perjanjian damai.
Inilah Ghazwah Waddan, juga dikenal sebagai Ghazwah Al-Abwa’, ekspedisi pertama yang dipimpin langsung oleh Rasulullah ï·º setelah hijrah ke Madinah.
Konteks Waktu dan Situasi
Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-2 Hijriah, sekitar bulan Safar. Namun, membacanya di bulan Rajab—bulan haram yang dimuliakan—memberi kita ruang kontemplasi yang luas. Rajab adalah bulan menahan diri dari konflik, dan menariknya, langkah pertama Rasulullah ï·º justru selaras dengan semangat itu: mencegah konflik sebelum terjadi.
Saat itu, komunitas Muslim di Madinah masih sangat rentan. Mereka baru membangun masyarakat baru, menghadapi tekanan dari Quraisy Mekah yang belum mereda, serta hidup berdampingan dengan kabilah-kabilah lain yang posisi politiknya belum sepenuhnya jelas. Ancaman serangan mendadak selalu ada.
Di sinilah pentingnya Ghazwah Waddan: bukan sebagai serangan, melainkan sebagai sinyal kewaspadaan dan penguatan posisi politik umat Islam.
Tujuan Ekspedisi: Bukan Menyerang, Melainkan Mengamankan
Rasulullah ï·º keluar bersama sekitar 60–70 orang sahabat, menuju wilayah Waddan/Al-Abwa’, sebuah daerah strategis di jalur antara Madinah dan Mekah. Tujuannya sering disalahpahami sebagai upaya menghadang kafilah dagang Quraisy. Padahal, jika ditelaah lebih jernih, tujuan utamanya adalah:
-
Menunjukkan eksistensi komunitas Muslim
-
Mengamankan jalur Madinah dari potensi ancaman
-
Membangun relasi politik dengan kabilah sekitar
Dalam dunia Arab kala itu, kekuatan politik tidak hanya diukur dari senjata, tetapi dari jaringan perjanjian dan aliansi. Rasulullah ï·º memahami realitas ini dengan sangat baik.
Perjanjian dengan Bani Dhamrah
Di Waddan, Rasulullah ï·º bertemu dengan Bani Dhamrah, salah satu kabilah Arab yang mendiami wilayah tersebut. Alih-alih terjadi konfrontasi, justru terjadi perjanjian damai. Isinya antara lain:
-
Tidak saling menyerang
-
Saling membantu jika diserang pihak lain
-
Menjaga keamanan wilayah masing-masing
Perjanjian ini menunjukkan bahwa diplomasi adalah pilihan utama Rasulullah ï·º, bahkan ketika beliau memiliki legitimasi untuk menggunakan kekuatan.
Menariknya, perjanjian ini dibuat dalam posisi umat Islam yang belum kuat secara militer. Artinya, Rasulullah ï·º tidak menunggu kuat untuk berlaku adil, dan tidak menunggu menang untuk memilih damai.
Makna Strategis Ghazwah Waddan
Meski tanpa peperangan, Ghazwah Waddan memiliki dampak besar:
-
Quraisy mulai menyadari bahwa Madinah bukan lagi komunitas pasif
-
Kabilah sekitar melihat Islam sebagai entitas politik yang tertata
-
Kaum Muslimin belajar tentang kedisiplinan, kesiapan, dan ketaatan komando
Ini adalah pelajaran penting: kemenangan tidak selalu diukur dari bentrokan, tetapi dari keberhasilan mencegah konflik dan menjaga stabilitas.
Dimensi Spiritual: Taat dalam Hal yang Sunyi
Sering kali, kita hanya mengagungkan kisah-kisah besar yang dramatis—Badar, Uhud, Khandaq. Namun Ghazwah Waddan mengajarkan bahwa ketaatan juga diuji dalam peristiwa yang sunyi dan nyaris terlupakan.
Para sahabat berangkat meninggalkan Madinah, menempuh perjalanan berat, menahan kemungkinan bahaya—lalu pulang tanpa satu pun adegan heroik. Tidak ada rampasan perang. Tidak ada sorak kemenangan. Yang ada hanyalah ketaatan penuh kepada perintah Rasulullah ï·º.
Bukankah ini sangat relevan dengan ibadah pra-Ramadan? Banyak amal yang terasa “tidak terlihat”, namun justru di situlah kemurnian niat diuji.
Perang sebagai Jalan Terakhir
Ghazwah Waddan menegaskan satu prinsip besar: perang dalam Islam bukan tujuan, melainkan alat terakhir. Jika keamanan dapat dijaga dengan perjanjian, maka itulah jalan yang ditempuh. Jika ancaman bisa diredam dengan kehadiran dan sikap tegas, maka tidak perlu pedang dihunus.
Ini membantah anggapan bahwa Rasulullah ï·º gemar berperang. Justru, beliau paling berusaha menghindari pertumpahan darah, selama misi dakwah dan keselamatan umat masih dapat dijaga.
Refleksi Rajab: Menjaga Diri Sebelum Bertempur
Rajab mengajarkan kita untuk menahan diri. Ghazwah Waddan mengajarkan hal yang sama dalam skala sosial dan politik. Sebelum konflik besar terjadi, ada langkah-langkah kecil yang harus ditempuh: membangun komunikasi, menunjukkan kesiapan, dan meluruskan niat.
Dalam kehidupan pribadi, mungkin kita juga sedang berada di “fase Waddan”: belum ada konflik besar, tapi ada potensi. Belum ada pertarungan, tapi ada keresahan. Islam mengajarkan kita untuk menyelesaikan banyak hal sebelum ia meledak menjadi luka.
Ghazwah Waddan bukan kisah perang yang berdarah, tetapi kisah kepemimpinan yang matang. Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kendali diri, kecerdasan strategi, dan keberanian memilih dama




0 komentar: