🌿 Seri Dealing with Gen Z #9 . Mengelola Konflik dengan Gen Z: Saat Mereka Defensif, Silent, atau Burnout

 


Tidak semua interaksi berjalan ideal.
Ada momen ketika Gen Z terlihat defensif.
Ada yang tiba-tiba menghilang.
Ada yang tampak burnout bahkan sebelum semester berakhir.

Di situ, sebagai dosen atau atasan, kita sering dihadapkan pada dilema:
harus tegas atau empatik?
harus memberi ruang atau memberi batas?

Jawabannya sering kali bukan memilih salah satu — tapi menyeimbangkan keduanya.


🛡️ 1. Saat Mereka Defensif

Gen Z tumbuh dalam budaya yang sangat sadar penilaian. Ketika dikritik, sebagian langsung menganggap itu serangan personal.

Tanda defensif bisa terlihat dari:

  • membela diri berlebihan,

  • menyalahkan situasi,

  • menarik diri secara emosional.

Apa yang bisa dilakukan?

Alih-alih memperkeras nada, coba:

  • fokus pada fakta, bukan interpretasi,

  • gunakan kalimat netral,

  • pisahkan perilaku dari identitas.

Bukan:
“Kamu tidak serius.”

Tapi:
“Tugas ini terlambat dua hari. Mari kita bicarakan penyebabnya.”

Ketika diskusi kembali pada data, emosi lebih mudah turun.


🤐 2. Saat Mereka Silent

Ada Gen Z yang bukan melawan, tapi menghilang. Tidak membalas pesan. Tidak hadir diskusi. Tidak menjelaskan.

Silent bukan selalu bentuk pembangkangan.
Kadang itu bentuk kewalahan.

Namun empati tidak berarti membiarkan.

Yang perlu dilakukan:

  • konfirmasi secara pribadi,

  • tanyakan kondisi tanpa menghakimi,

  • tetap tegaskan konsekuensi akademik.

Empati + batas = keseimbangan.


🔥 3. Saat Mereka Burnout

Istilah burnout sekarang sangat sering digunakan.
Kadang memang benar. Kadang hanya lelah sementara.

Tantangannya adalah membedakan:

  • burnout klinis,

  • kelelahan sementara,

  • atau kurang manajemen waktu.

Respon yang sehat:

  • validasi perasaan,

  • bantu pecah tugas jadi lebih kecil,

  • ajarkan manajemen prioritas,

  • tetap jaga akuntabilitas.

Burnout bukan alasan untuk berhenti bertanggung jawab,
tapi sinyal bahwa strategi perlu diatur ulang.


⚖️ Prinsip Penting: Jangan Bereaksi, Responlah

Konflik lintas generasi sering membesar karena kedua pihak bereaksi.

Gen Z reaktif karena emosional.
Senior reaktif karena merasa tidak dihormati.

Padahal yang dibutuhkan adalah satu pihak yang stabil.

Dan sering kali, pihak itu adalah kita.


🤍 Konflik Adalah Ruang Belajar Dua Arah

Mengelola konflik dengan Gen Z bukan hanya tentang mengatur mereka.
Ini juga tentang melatih diri kita menjadi lebih fleksibel tanpa kehilangan prinsip.

Mereka belajar regulasi emosi.
Kita belajar regulasi ekspektasi.

Dan di tengahnya, hubungan profesional yang sehat bisa tumbuh.

0 komentar: