🌿 Seri Dealing with Gen Z #5: Gen Z di Ruang Kelas: Mengapa Mereka Terlihat Pasif?

 


“Kenapa diam semua?”
Pertanyaan itu hampir selalu muncul di ruang kelas ketika dosen melempar pertanyaan dan yang terdengar hanya sunyi.

Bagi sebagian pengajar, keheningan berarti tidak siap. Tidak membaca. Tidak peduli.

Tapi apakah benar sesederhana itu?


🤔 Diam Tidak Selalu Berarti Tidak Paham

Gen Z tumbuh dalam budaya komunikasi digital. Mereka terbiasa:

  • mengetik sebelum berbicara,

  • berpikir sebelum mengirim pesan,

  • menyusun respons dengan hati-hati.

Di ruang kelas, proses itu tidak selalu punya waktu.

Ketika pertanyaan dilempar secara spontan, banyak dari mereka:

  • takut salah,

  • takut dinilai teman,

  • takut dianggap tidak cerdas.

Bukan karena tidak tahu.
Tapi karena takut terlihat tidak tahu.


📱 Aktif di Online, Pasif di Offline

Fenomena menarik:
Di forum online atau grup diskusi tertulis, mereka bisa sangat aktif. Argumennya panjang. Responnya cepat.

Mengapa berbeda?

Karena komunikasi tertulis memberi:

  • waktu berpikir,

  • ruang mengedit sebelum mengirim,

  • jarak dari tatapan langsung.

Ruang kelas konvensional sering terasa seperti panggung. Dan tidak semua nyaman berdiri di atas panggung.


🧠 Budaya Performa dan Fear of Failure

Gen Z hidup dalam sistem rating dan penilaian konstan. Like, views, komentar. Mereka sangat sadar akan persepsi.

Akibatnya, banyak yang:

  • enggan berbicara jika tidak 100% yakin,

  • memilih diam daripada terlihat keliru,

  • merasa satu kesalahan bisa melekat lama.

Padahal ruang kelas seharusnya ruang belajar, bukan ruang penghakiman.


📊 Pola Partisipasi yang Berbeda

Partisipasi generasi sebelumnya sering berbentuk:

  • angkat tangan,

  • debat langsung,

  • respons spontan.

Partisipasi Gen Z bisa berbentuk:

  • chat box aktif,

  • diskusi kelompok kecil,

  • respon reflektif tertulis,

  • proyek kreatif.

Mereka tetap berpikir. Hanya medianya berbeda.


🎓 Lalu Apa yang Bisa Dilakukan?

Tanpa harus mengubah karakter mereka sepenuhnya, pendekatan bisa disesuaikan:

  • Beri waktu berpikir sebelum meminta jawaban.

  • Gunakan diskusi kelompok kecil sebelum pleno.

  • Tunjukkan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses.

  • Jelaskan bahwa partisipasi bukan kompetisi.

Tujuannya bukan memanjakan.
Tapi membuka ruang aman untuk berpikir.


🤍 Mungkin Mereka Tidak Pasif, Hanya Berbeda

Keheningan bukan selalu kekosongan.
Kadang ia adalah proses internal yang belum menemukan bentuk.

Jika kita melihat partisipasi hanya dari suara yang terdengar, kita bisa melewatkan potensi yang sebenarnya sedang tumbuh.

Mungkin yang perlu diubah bukan generasinya.
Tapi cara kita membaca mereka.

0 komentar: