Seri 27: Akhlak Rasulullah ﷺ dalam Perang — Ketegasan yang Berbalut Rahmah

 



Ketika sejarah mencatat peperangan, yang sering tersisa adalah angka korban dan peta wilayah. Namun dalam sirah, ada hal yang jauh lebih berharga untuk diwariskan: akhlak. Pada diri Muhammad, perang bukan panggung pelampiasan amarah, melainkan ujian karakter—apakah kekuatan digunakan untuk menegakkan keadilan, atau justru meruntuhkannya.

Seri ini merangkum prinsip-prinsip akhlak perang yang konsisten ditunjukkan Rasulullah ﷺ dari awal hingga akhir perjuangan.


1) Perang sebagai Jalan Terakhir

Rasulullah ﷺ tidak memulai perang jika pintu damai masih terbuka. Diplomasi, perjanjian, dan peringatan selalu didahulukan. Perang hadir bukan karena ambisi, melainkan ketika kezaliman mengancam keselamatan dan kebebasan beribadah. Ini menegaskan: kekuatan dipakai untuk menghentikan kerusakan, bukan menciptakannya.


2) Larangan Menyakiti yang Tak Bersalah

Dalam setiap ekspedisi, Rasulullah ﷺ menegaskan batas-batas tegas:

  • Tidak membunuh perempuan, anak-anak, dan orang tua

  • Tidak menyakiti warga sipil

  • Tidak merusak rumah ibadah

  • Tidak menebang pohon atau merusak sumber kehidupan tanpa alasan

Prinsip ini menjadikan perang tetap manusiawi, bahkan di tengah konflik.


3) Menjaga Amanah dan Janji

Akhlak perang Rasulullah ﷺ bertumpu pada amanah. Perjanjian dihormati, bahkan ketika berat sebelah. Pelanggaran ditindak melalui proses, bukan emosi. Ini terlihat jelas pada Hudaibiyah, Umrah Qadha’, dan Fathu Makkah: janji dijaga saat lemah maupun kuat.


4) Perlakuan Bermartabat terhadap Tawanan

Tawanan perang dipelihara kehormatannya. Mereka diberi makan, perlindungan, dan jalan keluar yang adil—tebusan, pendidikan, atau pembebasan. Pada masanya, ini adalah lompatan etika besar: musuh yang kalah tetap manusia.


5) Pemaafan saat Paling Berkuasa

Puncak akhlak terlihat saat menang. Fathu Makkah menjadi bukti: Rasulullah ﷺ memaafkan mereka yang dulu menyiksa dan mengusir. Ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral yang meluruhkan kebencian dan membuka pintu hidayah.


6) Kepemimpinan yang Hadir dan Rendah Hati

Rasulullah ﷺ hadir di tengah pasukan—menggali parit, menata barisan, menenangkan yang takut. Tidak ada jarak simbolik. Saat kemenangan datang, beliau merendah; saat ujian berat, beliau meneguhkan. Inilah kepemimpinan yang menguatkan tanpa mengintimidasi.


7) Tujuan Akhir: Tauhid dan Keadilan

Perang bukan tujuan. Tauhid dan keadilan adalah tujuan. Ketika tujuan tercapai tanpa perang (Hudaibiyah, Tabuk), itulah kemenangan terbaik. Ketika perang tak terelakkan, akhlak menjadi kompas agar jalan yang ditempuh tetap lurus.


Refleksi untuk Kita

Akhlak perang Rasulullah ﷺ menantang kita hari ini:

  • Apakah kita adil saat kuat?

  • Apakah kita menahan diri saat mampu membalas?

  • Apakah tujuan kita lebih besar daripada ego?

Dalam konflik apa pun—keluarga, kerja, sosial—nilai yang sama berlaku: kekuatan harus beriringan dengan rahmah.


Seri ini menegaskan bahwa keagungan Islam tidak diukur dari banyaknya kemenangan, melainkan dari konsistensi akhlak di setiap keadaan. Di tangan Rasulullah ﷺ, kekuatan tidak memadamkan nurani; ia menjaganya tetap hidup.

0 komentar: