Jika seluruh rangkaian perjuangan Rasulullah ﷺ adalah sebuah perjalanan ruhani, maka Fathu Makkah adalah puncaknya. Bukan karena besarnya pasukan, bukan karena runtuhnya musuh, tetapi karena kemenangan ini tidak melahirkan pembalasan, melainkan pemaafan.
Peristiwa agung ini terjadi pada tahun ke-8 Hijriah, ketika Rasulullah ﷺ memasuki Makkah—kota yang dulu mengusir, menyakiti, dan memerangi beliau—kini dalam keadaan tunduk tanpa perlawanan berarti.
Latar Belakang: Janji yang Dikhianati
Perjanjian Hudaibiyah telah membuka jalan damai. Namun ketika sekutu Quraisy melanggar perjanjian dengan menyerang sekutu kaum Muslimin, maka perjanjian itu runtuh oleh pengkhianatan mereka sendiri.
Rasulullah ﷺ tidak mengumumkan perang besar. Beliau bergerak dengan senyap, cepat, dan terukur—bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk menghentikan siklus kekerasan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Masuknya Rasulullah ﷺ ke Makkah: Rendah Hati Saat Menang
Sekitar 10.000 pasukan Muslim bergerak menuju Makkah. Jumlah ini belum pernah terjadi sebelumnya. Namun yang paling mengguncang bukanlah jumlah pasukan, melainkan cara Rasulullah ﷺ memasuki kota.
Beliau masuk dengan kepala tertunduk, hingga janggutnya hampir menyentuh pelana unta—sebuah simbol kerendahan hati yang luar biasa. Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada parade kekuasaan. Yang ada adalah dzikir dan syukur.
Inilah perbedaan mendasar antara penaklukan duniawi dan kemenangan kenabian.
Detik-Detik yang Menentukan: Memaafkan atau Membalas
Penduduk Makkah berkumpul, ketakutan menunggu keputusan. Mereka tahu, di hadapan mereka berdiri seseorang yang memiliki alasan paling sah untuk membalas.
Namun Rasulullah ﷺ justru bertanya:
“Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”
Mereka menjawab dengan suara gemetar:
“Engkau adalah saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”
Maka keluarlah kalimat yang mengubah sejarah:
“Pergilah, kalian semua bebas.”
Tidak ada pembantaian. Tidak ada balas dendam. Tidak ada pengadilan massal. Yang runtuh bukan manusia, tetapi kebencian.
Penghancuran Berhala: Tegaknya Tauhid, Bukan Kekuasaan
Setelah keamanan terjamin, Rasulullah ﷺ memasuki Ka’bah dan menghancurkan berhala-berhala satu per satu. Ini bukan simbol dominasi politik, melainkan pemurnian tauhid.
Fathu Makkah menegaskan bahwa:
-
Tujuan perjuangan bukan merebut kota
-
Tujuan sejatinya adalah membebaskan manusia dari penyembahan kepada selain Allah
Kekuasaan hanyalah sarana. Tauhid adalah tujuan.
Buah Pemaafan: Hati yang Tunduk
Apa yang terjadi setelah pemaafan agung ini?
-
Banyak tokoh Quraisy masuk Islam tanpa paksaan
-
Musuh lama menjadi pembela setia
-
Dakwah Islam menyebar tanpa hambatan
Hati yang tidak bisa ditaklukkan oleh pedang, luluh oleh akhlak.
Pelajaran Besar: Ujian Saat Paling Kuat
Fathu Makkah adalah ujian terbesar Rasulullah ﷺ, bukan saat beliau lemah, tetapi saat beliau memiliki kekuasaan penuh.
Karena:
-
Lemah diuji dengan kesabaran
-
Kuat diuji dengan pemaafan
Dan Rasulullah ﷺ lulus dengan sempurna.
Relevansi untuk Kita Hari Ini
Dalam hidup, ada saatnya kita berada di “Makkah” versi kita:
-
Saat kita benar
-
Saat kita punya kuasa
-
Saat kita bisa membalas
Fathu Makkah bertanya:
apakah kita akan memilih membalas, atau membebaskan?
Islam mengajarkan bahwa puncak kekuatan adalah kemampuan memaafkan tanpa kehilangan wibawa.
Kemenangan yang Menghidupkan
Fathu Makkah bukan akhir perjuangan, tetapi awal babak baru. Dari kota yang dulu memusuhi Islam, lahirlah pusat tauhid yang menerangi dunia.
Ia mengajarkan satu pesan abadi:
Islam menang ketika akhlak lebih tinggi dari amarah.


0 komentar: