Aku pernah mengira menjadi dewasa berarti mengeras. Tidak terlalu berharap. Tidak terlalu peduli. Tidak terlalu mudah tersentuh. Seolah-olah kelembutan adalah sesuatu yang harus ditinggalkan agar bisa bertahan.
Ternyata, aku keliru.
Dewasa bagiku sekarang justru tentang keberanian untuk tetap lembut—di dunia yang sering tidak ramah. Tentang memilih empati tanpa menjadi naif. Tentang peduli tanpa mengorbankan diri. Tentang membuka hati, tapi tetap tahu batas.
Aku belajar bahwa kelembutan bukan kelemahan. Ia kekuatan yang terlatih. Dibentuk oleh luka, oleh kegagalan, oleh kekecewaan—lalu dipilih kembali dengan sadar. Tetap lembut setelah semua itu bukan hal mudah, tapi itulah keberanian yang sesungguhnya.
Hari ini aku ingin menjadi dewasa yang tidak sinis. Yang tidak mematikan rasa hanya karena pernah disakiti. Aku ingin menjadi versi diriku yang bisa berkata tegas tanpa melukai, menolak tanpa membenci, dan berjalan tanpa menginjak siapa pun.
Menjaga kelembutan di usia dewasa bukan berarti aku tidak tegas. Justru karena aku tegas pada nilai, aku bisa tetap lembut pada manusia. Dan keseimbangan itu ingin kujaga.
Aku ingin menua tanpa mengeras.
Belajar tanpa pahit.
Dan mencintai tanpa takut kehilangan diri.


0 komentar: