Ada satu ayat yang membuat para sahabat terdiam, bahkan sebagian dari mereka terkejut. Ayat itu turun setelah Perjanjian Hudaibiyah, bukan setelah perang besar, bukan setelah penaklukan kota, melainkan setelah sebuah perjanjian yang—di mata banyak orang—terlihat pahit dan merugikan.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata (fathan mubīnan).”
Ayat ini terasa “tidak sinkron” dengan emosi manusia. Bagaimana mungkin sebuah perjalanan umrah yang gagal, perjanjian yang berat sebelah, dan kepulangan tanpa thawaf disebut sebagai kemenangan yang nyata?
Namun justru di sinilah Allah sedang mendidik cara pandang umat ini.
Kemenangan Versi Langit, Bukan Versi Ego
Bagi manusia, kemenangan sering diukur dengan:
-
Wilayah yang direbut
-
Musuh yang dikalahkan
-
Kekuasaan yang terlihat
Namun Al-Qur’an mendefinisikan kemenangan dengan ukuran yang jauh lebih dalam:
-
Terbukanya jalan dakwah
-
Luruhnya permusuhan sistemik
-
Tumbuhnya keimanan secara sadar
-
Tertundukkannya ego, bukan manusia
Hudaibiyah tidak menundukkan Quraisy dengan pedang, tetapi menundukkan ketakutan, prasangka, dan kebencian yang mengeras.
Mengapa Ayat Ini Turun di Hudaibiyah?
Karena Allah ingin menegaskan bahwa:
-
Kesabaran strategis lebih kuat dari konfrontasi emosional
-
Ketaatan kolektif membuka pintu pertolongan
-
Perdamaian adalah ladang dakwah yang paling subur
Dalam suasana damai pasca-Hudaibiyah, kaum Muslimin bisa:
-
Berdakwah tanpa tekanan
-
Berinteraksi tanpa stigma perang
-
Menyampaikan Islam secara jernih
Hasilnya mencengangkan. Dalam dua tahun setelah Hudaibiyah, jumlah orang yang masuk Islam melampaui seluruh fase sebelumnya. Islam menyebar bukan karena ditakuti, tetapi karena dipahami dan dirasakan kebenarannya.
Pelajaran Berat: Taat Saat Hati Tidak Puas
Salah satu sisi paling mahal dari Hudaibiyah adalah ketaatan yang tidak disertai kepuasan emosional. Para sahabat taat, tetapi hati mereka perih. Mereka patuh, tetapi dada mereka sesak.
Ini adalah jenis ketaatan yang jarang dibicarakan:
-
Taat tanpa tepuk tangan
-
Taat tanpa rasa menang
-
Taat tanpa pengakuan
Namun justru ketaatan inilah yang Allah namai fathan mubīnan.
Kesabaran yang Aktif, Bukan Pasif
Penting untuk diluruskan: kesabaran dalam Islam bukan pasrah tanpa arah. Hudaibiyah bukan mundur karena takut, tetapi menahan diri demi tujuan yang lebih besar.
Rasulullah ﷺ:
-
Tetap menjaga wibawa umat
-
Tetap menegaskan hak beribadah
-
Tetap melindungi kaum Muslimin
Namun semua itu dilakukan tanpa meledakkan konflik. Ini kesabaran yang aktif, strategis, dan visioner.
Allah Membuka Jalan, Bukan Sekadar Memberi Hasil
Fathan mubīnan bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi tentang jalan yang dibukakan Allah:
-
Jalan menuju Fathu Makkah
-
Jalan menuju penyatuan Jazirah Arab
-
Jalan menuju runtuhnya dominasi Quraisy tanpa pembantaian
Hudaibiyah adalah kunci. Dan kunci itu hanya bisa dipegang oleh tangan yang tidak gemetar oleh ego.
Dimensi Ruhani: Menang dengan Menundukkan Diri
Jika Badar adalah kemenangan iman atas jumlah, maka Hudaibiyah adalah kemenangan iman atas ego. Ini jauh lebih sulit.
Karena ego:
-
Ingin dihormati segera
-
Ingin dibenarkan sekarang
-
Ingin menang dengan cara sendiri
Allah mengajarkan umat ini untuk berkata:
“Kami dengar dan kami taat,”
bahkan ketika hasilnya belum terasa manis.
Relevansi untuk Kita Hari Ini
Dalam kehidupan pribadi, profesional, dan sosial, kita sering berada di persimpangan:
-
Membalas atau menahan diri
-
Memaksakan kebenaran atau menunggu waktu
-
Menang cepat atau menang tepat
Hudaibiyah dan fathan mubīnan mengajarkan:
tidak semua kemenangan perlu dipercepat, dan tidak semua jalan lurus itu keras.
Kadang Allah sedang membuka jalan panjang—dan tugas kita hanya satu: tidak merusaknya dengan emosi sesaat.
Rajab, Kesabaran, dan Visi Jangka Panjang
Rajab adalah bulan menata diri. Fathan mubīnan mengajarkan bahwa menata diri bukan hanya soal ibadah personal, tetapi cara kita menyikapi konflik, penundaan, dan ketidakadilan yang terasa.
Ramadhan kelak akan melatih lapar.
Hudaibiyah melatih lapar akan pengakuan—dan memilih menahannya.
Saat Allah Menamai Jalan Sunyi sebagai Kemenangan
Jika Allah telah menamai Hudaibiyah sebagai kemenangan, maka siapa kita untuk menyebut kesabaran sebagai kekalahan?
Fathan mubīnan adalah pesan abadi:
bahwa Islam tidak dibangun oleh emosi yang meledak,
tetapi oleh hati yang tunduk, visi yang jauh,
dan kepercayaan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya.


0 komentar: