📘 Seri Teknik Studi Berbasis Evidence #4 — Active Learning vs Passive Learning: Apa Kata Riset?

 



Ada dua cara besar manusia belajar. Yang pertama terasa tenang dan aman: duduk, membaca, mendengarkan. Yang kedua terasa sedikit mengganggu: berpikir, menjawab, salah, lalu memperbaiki. Selama ini, banyak dari kita memilih yang pertama—passive learning—karena rasanya seperti belajar tanpa risiko.

Masalahnya, riset menunjukkan bahwa yang terasa nyaman sering kali kurang efektif.

Active learning bukan tren baru. Ia lahir dari temuan konsisten dalam psikologi kognitif dan pendidikan: belajar paling kuat terjadi ketika pelajar terlibat aktif dalam menghasilkan pengetahuan, bukan sekadar menerimanya.


🌿 Apa Itu Passive Learning?

Passive learning terjadi ketika kita:

  • membaca tanpa jeda berpikir,

  • mendengarkan penjelasan tanpa mencoba mengulang,

  • menonton video sambil merasa “oh, aku ngerti”.

Kegiatan ini tidak salah. Bahkan, ia punya tempat—terutama di fase pengenalan. Namun, jika berhenti di sini, yang terbentuk sering kali rasa familiar, bukan ingatan yang bisa dipanggil kembali.

Riset besar menunjukkan bahwa membaca ulang dan mendengarkan pasif berada di level efektivitas rendah untuk retensi jangka panjang (Dunlosky et al.). Kita merasa paham karena materi terlihat dikenal, padahal kemampuan mengingat mandiri belum terbangun.


🌿 Apa Itu Active Learning?

Active learning menuntut produksi dari pelajar. Bukan produksi sempurna, tapi produksi nyata. Contohnya:

  • menjawab pertanyaan tanpa melihat catatan,

  • menjelaskan konsep dengan kata sendiri,

  • membuat soal dan mencoba menjawabnya,

  • menulis ringkasan dari ingatan,

  • mendiskusikan dan mempertahankan argumen.

Intinya: otak dipaksa bekerja. Ada kemungkinan salah. Ada jeda. Ada ketidaknyamanan. Dan justru di situlah pembelajaran menguat.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika pelajar aktif mengingat dan mengelaborasi, jejak memori menjadi lebih kuat dan lebih tahan lama (Roediger & Karpicke).


🌿 Kenapa Active Learning Terasa Lebih Sulit?

Karena ia menyingkap apa yang belum kita pahami. Passive learning menyembunyikan celah; active learning memperlihatkannya. Banyak orang menghindari active learning bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak ingin merasa “tidak tahu”.

Padahal, merasa tidak tahu adalah informasi berharga. Ia memberi arah: bagian mana yang perlu diperkuat. Tanpa momen ini, belajar mudah tersesat dalam ilusi kompetensi.


🌿 Menggabungkan Keduanya Secara Cerdas

Evidence-based study tidak menolak passive learning sepenuhnya. Ia mengajak kita menempatkannya di awal, lalu segera beralih ke aktif.

Pola sederhana yang efektif:

  1. Paparan singkat (baca/tonton)

  2. Aktivasi (tutup sumber, jawab/ceritakan ulang)

  3. Umpan balik (cek, perbaiki)

Dengan pola ini, passive learning menjadi pintu masuk, bukan tujuan akhir.


🌿 Contoh Praktis untuk Mahasiswa

  • Setelah membaca 5–10 halaman, tutup buku dan tulis 3 poin utama dari ingatan.

  • Setelah kuliah, rekam suara 2 menit menjelaskan materi seolah mengajar teman.

  • Ubah subjudul menjadi pertanyaan, lalu jawab tanpa melihat catatan.

  • Diskusikan satu konsep sulit dengan teman—bukan untuk pamer, tapi untuk menguji pemahaman.

Langkah-langkah kecil ini sudah cukup untuk mengubah kualitas belajar secara signifikan.


🌿 Dari Nyaman ke Efektif

Active learning tidak menjanjikan proses yang selalu mulus. Ia menjanjikan hasil yang lebih bertahan. Jika selama ini belajar terasa lama tapi hasilnya rapuh, mungkin saatnya berani berpindah dari nyaman ke efektif.

Belajar bukan tentang seberapa halus prosesnya, tetapi seberapa kuat ingatan yang tersisa.

Di seri berikutnya, kita akan membahas teknik active learning yang paling kuat buktinya: Retrieval Practice—latihan mengingat yang sederhana, tapi dampaknya besar.

0 komentar: