Seri Perang di Zaman Rasulullah ﷺ (Pra-Ramadan – Bulan Rajab)
Di balik strategi besar Perang Khandaq, ada satu pelajaran yang sering terlewat: kemenangan lahir dari kerendahan hati untuk menerima kebenaran—dari siapa pun datangnya. Kisah ini terpatri dalam peran seorang sahabat mulia, Salman al-Farisi, yang mengajarkan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan hikmah, bukan asal-usul.
Dari Pencarian Panjang Menuju Khandaq
Salman al-Farisi datang dari latar yang jauh berbeda. Perjalanan hidupnya adalah kisah pencarian kebenaran lintas negeri—penuh pengorbanan dan kesabaran—hingga akhirnya bertemu Rasulullah ﷺ dan menemukan Islam. Ketika ancaman koalisi Ahzab membayangi Madinah, pengalaman hidup Salman menjadi modal strategis yang tak ternilai.
Dalam musyawarah menghadapi ancaman besar itu, Salman mengusulkan sesuatu yang asing bagi tradisi Arab: menggali parit di sisi Madinah yang terbuka. Strategi ini dikenal dalam peperangan Persia sebagai cara efektif menghadang pasukan besar. Usulan ini sederhana, namun revolusioner dalam konteks Jazirah Arab.
Rasulullah ﷺ menerima usulan tersebut tanpa ragu. Di sinilah pelajaran besar itu lahir: kebenaran tidak dinilai dari siapa yang mengusulkan, tetapi dari kemaslahatannya.
Musyawarah yang Membuka Pintu Hikmah
Perang Khandaq memperlihatkan musyawarah bukan sebagai formalitas, melainkan ruang terbuka bagi ide terbaik. Rasulullah ﷺ tidak memonopoli keputusan, meski beliau pemimpin dan Rasul. Beliau mendengar, menimbang, lalu bertindak.
Sikap ini menumbuhkan kepercayaan dan rasa memiliki di kalangan sahabat. Mereka tidak sekadar menjalankan perintah, tetapi berjuang dengan kesadaran kolektif. Ketika parit digali, Rasulullah ﷺ ikut bekerja—mengangkat tanah, memecah batu—menegaskan bahwa kepemimpinan sejati hadir di tengah kesulitan.
Khandaq: Bukti Kekuatan Kolaborasi
Parit yang digali bukan sekadar benteng fisik. Ia adalah simbol kolaborasi:
-
Muhajirin dan Anshar bekerja bahu-membahu
-
Ide dari Salman diterapkan oleh seluruh komunitas
-
Strategi dipadukan dengan doa dan keteguhan
Ketika pasukan Ahzab tiba dan tertahan, dunia menyaksikan bahwa kebersamaan yang cerdas mampu mengalahkan kekuatan yang lebih besar.
Kerendahan Hati: Kunci Kemenangan
Ada momen indah yang sering diriwayatkan: para sahabat berselisih—apakah Salman bagian dari Muhajirin atau Anshar. Rasulullah ﷺ menutup perdebatan itu dengan pernyataan yang sangat menyejukkan:
“Salman dari kami, Ahlul Bait.”
Pernyataan ini melampaui sekat suku dan asal. Islam mempersatukan di atas iman dan kontribusi. Siapa pun yang memberi manfaat, ia mulia di sisi Allah.
Pelajaran Strategis untuk Umat
Dari peran Salman al-Farisi, kita memetik beberapa pelajaran penting:
-
Terbuka pada ilmu lintas budaya — hikmah adalah milik orang beriman.
-
Musyawarah yang jujur — ide terbaik lahir dari keberanian mendengar.
-
Eksekusi bersama — strategi hebat butuh kerja kolektif.
-
Doa menyertai ikhtiar — kecerdasan berjalan seiring ketundukan.
Islam tidak anti inovasi. Islam anti kesombongan.
Rajab dan Sikap Menerima Hikmah
Rajab adalah bulan menata niat. Kisah Salman mengajak kita menata sikap batin: maukah kita menerima masukan dari orang yang “berbeda”? Dari yang lebih muda, dari yang latarnya lain, dari yang tak kita duga?
Sering kali, solusi datang dari arah yang tidak kita perhitungkan—dan kegagalan terjadi bukan karena kurang ide, melainkan karena menutup telinga.
Refleksi Pribadi: Saat Ide Datang dari Luar
Dalam kehidupan profesional, keluarga, dan dakwah, kita kerap menghadapi pilihan: mempertahankan cara lama atau menerima cara baru yang lebih tepat. Salman al-Farisi mengajarkan keberanian untuk menjadi jembatan—membawa hikmah tanpa merasa lebih tinggi, dan memberi tanpa menuntut pengakuan.


0 komentar: