Jika Fathu Makkah adalah kemenangan yang membebaskan manusia dari rasa takut, maka penghancuran berhala adalah kemenangan yang membebaskan hati dari perbudakan selain Allah. Inilah inti perjuangan Rasulullah ﷺ: bukan mengganti penguasa, tetapi memurnikan tujuan hidup.
Peristiwa ini terjadi setelah Rasulullah ﷺ memasuki Makkah dengan damai. Kota telah aman. Dendam telah dipadamkan. Kini saatnya membersihkan pusat tauhid dari simbol-simbol kesyirikan—tanpa paksaan, tanpa amarah.
Ka’bah dan 360 Berhala
Selama bertahun-tahun, Ka’bah—rumah ibadah yang dibangun untuk tauhid—dipenuhi berhala. Jumlahnya disebut mencapai 360, mewakili suku dan kepentingan. Setiap berhala adalah simbol ketergantungan palsu: takut pada selain Allah, berharap pada selain Allah.
Rasulullah ﷺ masuk ke dalam Ka’bah dan menghancurkan berhala satu per satu, seraya melantunkan ayat tentang kebenaran yang datang dan kebatilan yang lenyap. Tidak ada sorak. Tidak ada penghinaan pada manusia. Yang diruntuhkan adalah keyakinan yang keliru, bukan martabat orangnya.
Tauhid Ditegakkan dengan Keteladanan
Menariknya, Rasulullah ﷺ tidak memaksa orang Makkah segera menyatakan iman. Beliau memulai dari teladan: memurnikan tempat suci, menegakkan shalat, dan menata kembali fungsi Ka’bah sebagai pusat ibadah kepada Allah semata.
Di saat inilah, suara adzan pertama kali berkumandang dari Ka’bah, diserukan oleh Bilal bin Rabah—seorang mantan budak yang dulu disiksa karena tauhid. Simbol ini kuat: yang ditinggikan bukan status sosial, tetapi iman.
Mengapa Tanpa Balas Dendam?
Karena tujuan Islam bukan mempermalukan masa lalu, melainkan menyelamatkan masa depan. Jika balas dendam diutamakan, hati akan mengeras. Jika tauhid ditegakkan dengan kasih dan keadilan, hati akan terbuka.
Penghancuran berhala dilakukan:
-
Setelah keamanan terjamin
-
Setelah pemaafan diumumkan
-
Tanpa merusak rumah-rumah atau harta pribadi
Inilah perbedaan antara reformasi iman dan revolusi amarah.
Makna Simbolik: Berhala Zaman Kita
Berhala tidak selalu berupa patung. Ia bisa berupa:
-
Kekuasaan yang disembah
-
Harta yang dituhankan
-
Pengakuan manusia yang dikejar
-
Ego yang tak mau tunduk
Seri ini mengajak kita bertanya: berhala apa yang masih berdiri di hati kita?
Penghancuran berhala di Makkah mengajarkan bahwa pembersihan terbesar terjadi di dalam diri.
Relevansi Pasca-Kemenangan
Setelah menang, ada dua pilihan:
-
Menikmati kuasa
-
Menata nilai
Rasulullah ﷺ memilih yang kedua. Tauhid ditegakkan sebelum struktur kekuasaan diperluas. Ini pelajaran kepemimpinan yang langka: nilai dulu, sistem kemudian.
Kebenaran Datang dengan Tenang
Penghancuran berhala bukan adegan dramatis yang penuh amarah. Ia adalah proses tenang yang mengubah arah sejarah. Dari Makkah yang bersih dari berhala, cahaya tauhid menyebar ke seluruh Jazirah Arab—dan dunia.
Kebenaran tidak perlu berisik. Ia cukup ditegakkan dengan konsisten.


0 komentar: