Aku sering mengukur hidup dari hasil.
Dari apa yang terlihat. Dari apa yang bisa diceritakan. Dari apa yang akhirnya “jadi”. Tanpa sadar, aku menjadikan hasil sebagai tolok ukur keberhargaan diriku. Jika belum ada hasil, seolah usahaku belum cukup layak dihargai.
Hari ini aku mencoba belajar menata ulang cara pandang itu.
Niat adalah satu-satunya hal yang benar-benar bisa kukendalikan. Aku bisa mengatur bagaimana aku melangkah, bukan bagaimana dunia merespons langkahku. Aku bisa menjaga kejujuran niatku, meski hasilnya tidak selalu sesuai rencana.
Aku masih ingat betapa lelahnya menunggu sesuatu terjadi, sambil terus bertanya: kapan? mengapa belum? apa kurangnya? Pertanyaan-pertanyaan itu perlahan menggerus ketenangan. Membuatku lupa bahwa proses juga bagian dari ibadah.
Hari ini aku ingin berusaha dengan niat yang lebih bersih. Bekerja karena ingin bermanfaat, bukan sekadar diakui. Menunggu karena percaya, bukan karena terpaksa. Berjalan karena yakin pada arah, bukan karena takut tertinggal.
Menata niat bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya: aku tetap berbuat yang terbaik, tapi tidak lagi menjadikan hasil sebagai satu-satunya tujuan. Aku ingin sampai dengan hati yang utuh, bukan hanya tangan yang penuh.
Jika hari ini aku belum melihat apa-apa berubah, aku ingin tetap setia pada niat baikku. Karena mungkin, perubahan itu sedang bekerja di tempat yang belum bisa kulihat.
Hari ini, aku memilih fokus pada apa yang bisa kuperbaiki:
niatku.
Sikapku.
Caraku berjalan.
Dan itu, untuk sekarang, sudah cukup.


0 komentar: