Ada masa ketika aku mengira hidup adalah soal kecepatan. Siapa yang lebih dulu sampai. Siapa yang lebih cepat selesai. Siapa yang lebih cepat “jadi”. Tanpa sadar, aku ikut berlari—bukan karena siap, tapi karena takut tertinggal.
Hari ini aku berhenti sejenak dan mengakui: aku lelah berlari.
Aku tidak ingin lagi cepat tapi rapuh. Tidak ingin sampai tapi kehilangan diri. Aku ingin utuh—meski itu berarti jalanku lebih pelan, lebih berliku, dan tidak selalu bisa dipahami orang lain.
Keutuhan bagiku kini berarti aku hadir sepenuhnya dalam hidupku sendiri. Mendengar tubuhku saat ia meminta jeda. Mendengar hatiku saat ia ragu. Tidak memaksakan diri hanya demi terlihat kuat atau berhasil.
Aku masih punya tujuan. Masih ada hal-hal yang ingin kucapai. Tapi aku ingin mencapainya dengan cara yang tidak mematahkan diriku di tengah jalan. Aku ingin tiba dengan napas yang masih panjang, dengan hati yang masih lembut.
Hari ini aku belajar bahwa pelan bukan lawan dari maju. Pelan adalah caraku menjaga diri agar tetap bisa berjalan jauh. Dan mungkin, hidup memang bukan lomba lari—ia perjalanan panjang yang menuntut ketahanan.
Aku tidak harus cepat.
Aku ingin utuh.
Dan untuk pertama kalinya, pilihan itu terasa seperti kebebasan.


0 komentar: