Ada satu kebiasaan belajar yang terasa sangat rapi: menuntaskan satu topik sampai benar-benar selesai, baru pindah ke topik berikutnya. Rasanya fokus. Rasanya efisien. Dan jujur saja—rasanya memuaskan.
Namun riset justru menunjukkan hal yang agak bertentangan dengan intuisi ini: belajar dengan mencampur beberapa topik (interleaving) sering kali menghasilkan pemahaman yang lebih fleksibel dan tahan lama dibanding belajar satu topik secara berurutan (blocking).
Dan ya—interleaving memang terasa lebih sulit.
🌿 Apa Itu Interleaving?
Interleaving adalah strategi belajar dengan mencampur beberapa topik atau jenis soal dalam satu sesi, alih-alih menuntaskan satu jenis materi sampai habis.
Contohnya:
-
Belajar A → B → C → A → B (bukan A-A-A lalu B-B-B)
-
Mengerjakan soal dengan tipe berbeda dalam satu latihan
-
Membahas konsep yang mirip tapi konteksnya berbeda secara bergantian
Tujuannya bukan membuat belajar berantakan, melainkan melatih otak membedakan dan memilih strategi yang tepat.
🌿 Kenapa Belajar Campur Justru Lebih Efektif?
Saat belajar satu topik terus-menerus, otak cepat masuk mode otomatis. Kita tahu pola soalnya. Kita tahu langkahnya. Hasilnya terlihat bagus—selama konteksnya tidak berubah.
Masalah muncul ketika konteks berganti.
Interleaving memaksa otak untuk:
-
mengenali jenis masalah terlebih dahulu,
-
memilih strategi yang tepat,
-
lalu menerapkannya.
Proses ini memang memperlambat di awal, tapi ia membangun pemahaman konseptual, bukan sekadar hafalan prosedural.
Riset menunjukkan bahwa interleaving membantu kita mentransfer pengetahuan ke situasi baru—sesuatu yang sangat dibutuhkan di ujian berbasis kasus, praktik klinik, atau tugas analitis.
🌿 Kenapa Interleaving Terasa “Aku Jadi Lebih Bodoh”?
Karena interleaving menghilangkan rasa nyaman. Kita tidak lagi bisa mengandalkan ingatan jangka pendek atau pola yang berulang. Kita harus berpikir ulang setiap kali.
Ini sering disalahartikan sebagai kemunduran:
“Kok rasanya lebih susah dari kemarin?”
“Kenapa aku jadi lebih sering salah?”
Padahal, justru itu tanda otak sedang belajar membedakan, bukan sekadar meniru.
Belajar yang terasa lancar tidak selalu berarti belajar yang kuat.
🌿 Cara Menerapkan Interleaving (Versi Manusiawi)
Interleaving tidak harus ekstrem. Kamu bisa mulai dari langkah kecil:
-
Campur 2 topik saja dalam satu sesi
-
Gabungkan soal lama dengan soal baru
-
Selipkan review topik sebelumnya saat belajar topik baru
-
Bandingkan dua konsep yang mirip: apa bedanya? kapan dipakai?
Kuncinya adalah perpindahan sadar, bukan lompat acak.
🌿 Cocok untuk Siapa?
Interleaving sangat cocok untuk:
-
mata kuliah berbasis kasus,
-
materi yang sering tertukar,
-
konsep yang mirip tapi tidak sama,
-
persiapan ujian komprehensif,
-
pembelajar tingkat lanjut.
Jika kamu masih tahap pengenalan awal, blocking boleh dipakai sebentar. Tapi untuk penguatan dan aplikasi—interleaving unggul jauh.
🌿 Belajar Tidak Selalu Harus Terasa Rapi
Interleaving mengajarkan satu hal penting: belajar yang efektif sering terasa berantakan di tengah, tapi rapi di akhir. Ia melatih ketangguhan berpikir—bukan sekadar kelancaran sementara.
Jika hari ini belajarmu terasa lebih lambat, lebih menantang, dan lebih “berisik” di kepala, mungkin itu tanda kamu sedang membangun pemahaman yang bisa bertahan lebih lama.


0 komentar: