Kalau aku jujur, sebagian besar caraku belajar dulu dibangun dari kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Menandai hampir semua kalimat penting dengan stabilo. Membaca ulang catatan berkali-kali sampai terasa akrab. Begadang di malam sebelum ujian dengan keyakinan: “Yang penting sudah dibaca.”
Tidak ada yang terasa salah. Bahkan semuanya terasa sangat belajar.
Masalahnya baru terlihat belakangan—saat materi cepat menguap, saat ujian terasa asing, saat rasa “aku sudah belajar” tidak berbanding lurus dengan hasil. Di titik inilah riset mulai bicara, dan apa yang dikatakannya cukup mengejutkan: banyak kebiasaan belajar populer itu minim dampak jangka panjang.
🌿 Mitos 1: Highlight = Belajar
Highlight memberi rasa aman. Ketika satu halaman penuh warna, kita merasa sudah “mengolah” materi. Padahal, sebagian besar highlight dilakukan tanpa proses berpikir aktif. Mata bergerak, tangan menandai, otak mengenali—lalu berhenti di sana.
Riset menunjukkan bahwa highlight (terutama yang berlebihan) tidak banyak membantu retensi, kecuali jika dilakukan dengan sangat selektif dan disertai pemrosesan lanjutan. Masalahnya, kebanyakan dari kita menandai karena kalimat itu terlihat penting, bukan karena kita benar-benar memahaminya.
Highlight sering menciptakan ilusi kemajuan: halaman terlihat rapi, pikiran terasa akrab, tapi kemampuan mengingat mandiri tetap lemah.
🌿 Mitos 2: Baca Ulang Sampai Nempel
Membaca ulang adalah kebiasaan paling umum—dan paling menenangkan. Kita tahu persis apa yang akan muncul di halaman berikutnya. Tidak ada kejutan. Tidak ada kegagalan. Dan justru di situlah masalahnya.
Membaca ulang memperkuat rasa familiar, bukan kemampuan mengingat. Otak menjadi penonton, bukan pelaku. Ketika buku ditutup dan pertanyaan datang tanpa petunjuk, barulah kita sadar: familiar tidak sama dengan paham.
Penelitian besar di bidang psikologi kognitif menunjukkan bahwa membaca ulang termasuk teknik dengan efektivitas rendah untuk retensi jangka panjang, meski sangat sering digunakan.
🌿 Mitos 3: Begadang = Usaha Maksimal
Begadang sering dianggap simbol keseriusan. Padahal, tidur bukan musuh belajar—ia bagian penting dari konsolidasi memori. Tanpa tidur yang cukup, informasi yang sudah dipelajari sulit berpindah ke memori jangka panjang.
Ironisnya, begadang sering membuat kita:
-
lebih sulit fokus,
-
lebih emosional,
-
lebih cepat lupa,
-
dan lebih percaya diri secara keliru (aku sudah berjuang).
Usaha maksimal tidak selalu berarti jam maksimal. Dalam banyak kasus, belajar yang lebih singkat tapi terencana jauh lebih efektif daripada belajar panjang di kondisi lelah.
🌿 Kenapa Mitos Ini Bertahan Lama?
Karena semuanya terasa nyaman. Highlight, baca ulang, dan begadang memberi sensasi bekerja tanpa banyak risiko gagal. Kita jarang salah saat membaca ulang. Kita jarang “ketahuan tidak tahu” saat highlight. Kita jarang diuji sebelum hari H.
Belajar berbasis evidence justru mengajak kita menerima satu hal yang tidak nyaman: belajar yang efektif sering terasa lebih sulit di awal. Ada salah. Ada lupa. Ada jeda. Tapi justru di situlah memori dibangun.
🌿 Menggeser Kebiasaan, Bukan Menyalahkan Diri
Penting untuk ditegaskan: menggunakan metode-metode ini bukan berarti kita malas atau bodoh. Kita hanya melakukan apa yang selama ini diajarkan—atau ditiru. Yang perlu diubah bukan niatnya, tapi strateginya.
Kabar baiknya, kebiasaan belajar itu bisa di-upgrade. Di seri-seri berikutnya, kita akan membahas teknik yang terbukti lebih efektif—meski terasa lebih menantang—dan bagaimana menerapkannya tanpa burnout.
Belajar bukan tentang terlihat sibuk.
Belajar tentang apa yang tersisa ketika buku ditutup.


0 komentar: