Seri 19: Perang Mu’tah — Keteladanan Tanpa Kemenangan Militer

 



Tidak semua perjuangan berakhir dengan kemenangan di medan perang. Perang Mu’tah mengajarkan sesuatu yang lebih dalam: bahwa kemuliaan Islam tidak selalu diukur dari wilayah yang direbut, tetapi dari nilai yang ditegakkan—bahkan ketika secara militer tidak unggul.

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-8 Hijriah, di wilayah Mu’tah, jauh di utara Madinah. Ini adalah konfrontasi pertama kaum Muslimin dengan kekuatan besar di luar Jazirah Arab, yaitu pasukan Kekaisaran Bizantium dan sekutunya.


Latar Belakang: Utusan yang Dibunuh

Mu’tah bermula bukan dari ambisi ekspansi, melainkan dari pelanggaran serius terhadap kehormatan diplomatik. Seorang utusan Rasulullah ï·º dibunuh dalam perjalanan—sebuah tindakan yang pada masa itu dianggap deklarasi permusuhan.

Rasulullah ï·º merespons dengan langkah tegas namun terukur: mengirim pasukan untuk menegakkan keadilan dan menunjukkan bahwa nyawa utusan dan amanah diplomasi tidak boleh diremehkan.


Kekuatan yang Timpang

Pasukan Muslim berjumlah sekitar 3.000 orang. Mereka berhadapan dengan pasukan gabungan Bizantium yang jumlahnya jauh lebih besar—riwayat menyebut puluhan ribu. Sejak awal, ini adalah ujian keberanian dan keikhlasan, bukan perhitungan menang-kalah semata.

Rasulullah ï·º telah menetapkan urutan komando dengan jelas:

  1. Zaid bin Haritsah

  2. Ja’far bin Abi Thalib

  3. Abdullah bin Rawahah

Penetapan ini sendiri adalah pendidikan kepemimpinan: tanggung jawab harus siap berpindah tanpa kekacauan.


Tiga Panji, Tiga Keteladanan

Pertempuran berlangsung sengit. Zaid bin Haritsah memegang panji hingga gugur. Panji berpindah ke Ja’far bin Abi Thalib—yang bertempur hingga kedua tangannya terputus, lalu tetap memeluk panji dengan tubuhnya sampai syahid. Setelah itu, Abdullah bin Rawahah maju—sempat bergejolak di hati, namun menguatkan diri dan melangkah hingga gugur.

Di sini Mu’tah menjadi madrasah keberanian: bukan keberanian tanpa rasa takut, melainkan keberanian mengalahkan rasa takut.


Hikmah di Balik Tidak Dikejar Kemenangan

Setelah tiga panglima gugur, pasukan memilih seorang pemimpin baru yang bijak—Khalid bin Walid (saat itu belum lama masuk Islam)—yang mengatur manuver penyelamatan pasukan. Tidak ada klaim kemenangan militer. Tidak ada perayaan.

Namun ada keselamatan pasukan dan pesan kuat yang sampai ke dunia: kaum Muslimin berani, terorganisasi, dan berprinsip, meski menghadapi kekuatan raksasa.


Mengapa Mu’tah Tetap Menang?

Karena Mu’tah:

  • Menjaga kehormatan amanah diplomatik

  • Menunjukkan keteguhan iman di luar wilayah nyaman

  • Mendidik umat tentang kepemimpinan berlapis

  • Menegaskan bahwa nilai tidak tunduk pada jumlah

Dalam Islam, kekalahan taktis bisa menjadi kemenangan strategis bila nilai dijaga.


Dimensi Spiritual: Syahid Tanpa Sorak

Mu’tah mengajarkan kita mencintai perjuangan yang tidak disorot, yang tidak disertai euforia. Para syuhada Mu’tah tidak pulang dengan cerita penaklukan, tetapi dengan kemuliaan di sisi Allah.

Bukankah ini menguatkan kita yang sering berjuang tanpa tepuk tangan?


Relevansi untuk Kita Hari Ini

Ada fase hidup yang seperti Mu’tah:

  • Tantangan terlalu besar

  • Hasil tak sesuai rencana

  • Yang bisa dijaga hanya integritas

Mu’tah berbisik: jaga nilai—hasil akan Allah urus.



Perang Mu’tah adalah bukti bahwa Islam tidak mengejar kemenangan dengan mengorbankan prinsip. Ketika jumlah tidak berpihak, iman dan akhlak tetap tegak. Dan dari sanalah, jalan-jalan besar justru terbuka.

0 komentar: