Perang Mu’tah tidak dikenang karena wilayah yang direbut, melainkan karena manusia-manusia yang berdiri tegak ketika keadaan paling timpang. Tiga nama ini—Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah—menjadi madrasah kepemimpinan tentang amanah, keberanian, dan keikhlasan yang tidak menunggu hasil.
Zaid bin Haritsah: Amanah yang Dipikul Hingga Akhir
Zaid bukan hanya panglima pertama Mu’tah; ia adalah orang yang paling dipercaya. Sejak awal, ia memikul panji dengan kesadaran penuh bahwa jumlah tidak berpihak. Namun amanah tidak diukur dari peluang menang—ia diukur dari kesediaan menunaikan tugas.
Zaid maju tanpa ragu, menjaga barisan tetap tertata, dan gugur sambil memegang panji. Pelajarannya jernih: kepemimpinan adalah kesetiaan pada tugas, bukan kalkulasi selamat diri. Dalam hidup, sering kali kita diuji bukan pada kemampuan, tetapi pada kesetiaan menuntaskan amanah.
Ja’far bin Abi Thalib: Cinta yang Melampaui Rasa Takut
Ketika panji berpindah, Ja’far maju. Ia tahu risikonya. Namun yang menakjubkan dari Ja’far bukan sekadar keberanian fisik, melainkan keputusan batin. Ia bertempur hingga kedua tangannya terputus, lalu memeluk panji dengan tubuhnya—menolak membiarkan simbol amanah jatuh.
Rasulullah ๏ทบ kelak menyebut Ja’far diberi dua sayap di surga—sebuah metafora bagi kehilangan yang diganti kemuliaan. Ja’far mengajarkan: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya mampu mengalahkan naluri mempertahankan diri. Ada saatnya nilai harus dijaga, meski mahal.
Abdullah bin Rawahah: Jujur pada Diri, Lalu Melangkah
Abdullah adalah potret iman yang jujur pada pergulatan batin. Riwayat menyebut ia sempat bergejolak—takut itu ada, ragu itu manusiawi. Namun ia tidak berhenti di sana. Ia meneguhkan hati, lalu maju dan gugur.
Inilah teladan yang sering kita butuhkan: keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan melampauinya. Abdullah mengajarkan bahwa iman yang dewasa mengakui kelemahan, lalu menaklukkannya.
Satu Medan, Tiga Gaya Kepemimpinan
Mu’tah memperlihatkan keberagaman teladan:
-
Zaid: amanah yang konsisten
-
Ja’far: cinta yang total
-
Abdullah: kejujuran batin yang berbuah keberanian
Ketiganya berbeda, namun selaras dalam tujuan. Islam tidak menuntut satu tipe pahlawan; Islam memuliakan siapa pun yang menjaga nilai dengan caranya.
Kepemimpinan Berlapis: Sistem yang Menjaga Misi
Urutan komando yang ditetapkan Rasulullah ๏ทบ memastikan misi tidak runtuh ketika pemimpin gugur. Ini pelajaran organisasi yang sangat modern: siapkan suksesi, bukan kultus individu. Nilai lebih besar dari figur; misi lebih panjang dari satu nama.
Relevansi Hari Ini: Menang Tanpa Sorak
Banyak dari kita berada di “Mu’tah” masing-masing—tantangan besar, hasil tak pasti, sorotan minim. Tiga teladan ini berbisik:
-
Jaga amanahmu (Zaid)
-
Rawat cintamu pada nilai (Ja’far)
-
Akui takutmu, lalu melangkah (Abdullah)
Allah menilai keteguhan proses, bukan hanya gemerlap hasil.
Zaid, Ja’far, dan Abdullah tidak pulang dengan kemenangan militer, tetapi pulang dengan kemenangan makna. Dari Mu’tah, kita belajar bahwa nilai yang dijaga dalam keadaan paling sulit justru menjadi warisan paling hidup.


0 komentar: