Aku tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi baik berarti selalu tersedia. Mengiyakan. Menyesuaikan diri. Tidak mengecewakan. Lama-lama, aku lupa bahwa diriku juga butuh dijaga.
Hari ini aku belajar tentang batasan—bukan sebagai tembok, tapi sebagai pintu.
Aku ingin belajar berkata tidak tanpa merasa bersalah. Menarik diri tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Menjaga jarak dari hal-hal yang menguras, meski dulu terasa penting. Batasan ini bukan untuk menjauh dari orang lain, tapi untuk mendekatkan diriku pada kewarasan.
Aku ingin berhenti memaksakan diri hadir di setiap ruang. Tidak semua undangan perlu dihadiri. Tidak semua konflik perlu dimenangkan. Tidak semua ekspektasi perlu dipenuhi. Ada ketenangan dalam memilih dengan sadar ke mana energiku ingin kuberikan.
Menegakkan batasan dengan lembut berarti aku tetap peduli, tapi tidak mengorbankan diri. Aku tetap empatik, tapi tidak melupakan kebutuhanku sendiri. Ini bukan tentang menjadi egois, tapi tentang bertanggung jawab pada kesehatan batinku.
Hari ini, aku tidak ingin lagi bangga pada kelelahan. Aku ingin bangga pada keberanian menjaga diri. Dan jika harus mengecewakan beberapa orang demi itu, aku sedang belajar menerimanya.
Batasan bukan tanda aku berubah menjadi keras.
Ia tanda aku akhirnya jujur.


0 komentar: