Hai, aku di akhir tahun nanti.
Aku menulis surat ini dari awal perjalanan—saat segalanya masih terasa terbuka, rapuh, dan jujur.
Aku tidak tahu persis apa saja yang akan kamu lalui. Mungkin ada doa yang terjawab. Mungkin ada yang masih menggantung. Mungkin ada bahagia yang datang diam-diam, atau lelah yang sempat membuatmu ingin berhenti. Apa pun itu, aku harap kamu ingat satu hal: kamu sudah berusaha sejujur yang kamu bisa.
Aku harap kamu tidak mengukur dirimu hanya dari hasil. Ingat bagaimana kamu menata niat, menjaga langkah kecil, dan memilih tetap lembut meski dunia kadang keras. Ingat bahwa kamu pernah memilih utuh daripada cepat—dan itu keputusan yang berani.
Jika di akhir tahun nanti kamu merasa belum sampai, tolong jangan keras pada dirimu. Kamu sudah berjalan jauh. Kamu sudah belajar menyerahkan tanpa menyerah. Kamu sudah membangun batasan dengan lembut dan lingkaran aman yang hangat. Semua itu tidak terlihat dari luar, tapi sangat berarti di dalam.
Aku harap kamu masih menjaga kewarasanmu. Masih tahu kapan harus berhenti dan kapan harus melanjutkan. Masih berani meminta bantuan. Masih memberi ruang pada doa-doa yang jujur—bahkan ketika ragu sempat datang.
Dan jika ada satu hal yang ingin kuwariskan dari awal tahun ini untukmu di akhir tahun nanti, itu adalah ini: jangan tinggalkan dirimu sendiri. Apa pun yang terjadi, tetaplah pulang ke dirimu—dengan lebih sabar, lebih sayang, dan lebih percaya.
Jika tahun ini tidak sempurna, semoga ia tetap bermakna.
Jika jalannya berliku, semoga hatimu tetap tenang.
Dan jika kamu membaca surat ini sambil menarik napas panjang—semoga napas itu terasa lega.
Dengan penuh harap,
Aku di awal tahun


0 komentar: