Seri 15: Perjanjian Hudaibiyah — Kemenangan Tanpa Pedang

 



Ada kemenangan yang diraih dengan denting pedang, dan ada kemenangan yang lahir dari kesabaran menahan diri. Perjanjian Hudaibiyah termasuk yang kedua—bahkan mungkin yang paling sulit diterima oleh logika manusia saat itu. Namun justru darinya, Allah menyebut sebuah perjanjian yang tampak “merugikan” ini sebagai fathan mubînan (kemenangan yang nyata).

Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-6 Hijriah, ketika Rasulullah ﷺ bersama sekitar 1.400 sahabat berangkat dari Madinah dengan satu niat utama: melaksanakan umrah, bukan berperang. Mereka mengenakan pakaian ihram, membawa hewan hadyu, dan tidak bersenjata perang. Namun niat suci ini berhadapan dengan ketakutan dan kecurigaan Quraisy.


Niat Ibadah yang Dihalang-halangi

Bagi kaum Muslimin, Makkah adalah tanah kelahiran, Ka’bah adalah kiblat, dan umrah adalah hak ibadah. Namun bagi Quraisy, kembalinya Rasulullah ﷺ dan para sahabat dipandang sebagai ancaman simbolik dan politis, meski tanpa senjata.

Rombongan Muslim tertahan di sebuah tempat bernama Hudaibiyah, di pinggir wilayah haram. Di sinilah ketegangan menguat—bukan dengan perang terbuka, tetapi dengan negosiasi yang panjang dan melelahkan.

Utusan demi utusan datang dari Quraisy. Bahasa yang dipakai sering merendahkan. Sikap yang ditunjukkan sering keras. Namun Rasulullah ﷺ tidak terpancing. Beliau tetap menegaskan:

“Kami datang bukan untuk berperang, tetapi untuk beribadah.”


Isi Perjanjian yang Menguji Iman

Akhirnya, disepakatilah sebuah perjanjian—dengan poin-poin yang secara lahiriah tampak berat bagi kaum Muslimin, antara lain:

  1. Kaum Muslimin tidak jadi umrah tahun ini, dan harus kembali ke Madinah.

  2. Umrah baru boleh dilakukan tahun berikutnya, hanya selama tiga hari.

  3. Gencatan senjata selama 10 tahun.

  4. Siapa pun dari Quraisy yang masuk Islam dan pergi ke Madinah harus dikembalikan, sedangkan jika Muslim kembali ke Quraisy, tidak harus dikembalikan.

Bagi banyak sahabat, ini terasa tidak adil. Bahkan Umar bin Khattab—dengan kejujuran imannya—merasa sangat berat menerima keputusan ini. Namun Rasulullah ﷺ tetap tenang. Beliau melihat sesuatu yang belum dilihat para sahabat saat itu: kemenangan jangka panjang.


Ketaatan Tanpa Kepuasan Emosional

Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan hadyu dan bertahalul, padahal umrah batal dilakukan. Awalnya, perintah itu terasa sangat berat—bukan karena membangkang, tetapi karena emosi yang menumpuk.

Baru setelah Rasulullah ﷺ sendiri melakukannya, para sahabat mengikuti. Ini adalah ketaatan tanpa kepuasan emosional, tanpa euforia, tanpa rasa menang. Inilah bentuk ketaatan yang paling mahal harganya.


Mengapa Hudaibiyah Disebut Kemenangan?

Tak lama setelah peristiwa ini, turunlah firman Allah yang mengejutkan:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”

Mengapa?

Karena Hudaibiyah membuka pintu-pintu yang selama ini tertutup:

  • Dakwah berlangsung tanpa tekanan perang

  • Interaksi sosial antara Muslim dan non-Muslim meningkat

  • Banyak orang Quraisy masuk Islam secara sadar, bukan karena takut

  • Jumlah kaum Muslimin melonjak drastis dalam dua tahun

Dalam periode damai ini, Islam justru menyebar lebih cepat dibanding masa konflik terbuka.


Kemenangan Perspektif vs Kemenangan Ilahi

Hudaibiyah mengajarkan perbedaan besar antara:

  • Menang menurut manusia

  • Menang menurut Allah

Manusia ingin hasil cepat, terlihat, dan membanggakan. Allah mendidik umat ini untuk melihat lebih jauh, menahan diri, dan percaya bahwa kebenaran tidak selalu butuh konfrontasi.

Dalam banyak kasus, menahan pedang justru lebih berat daripada menghunusnya.


Dimensi Spiritual: Menang dengan Menundukkan Ego

Perjanjian Hudaibiyah bukan hanya ujian politik, tetapi ujian ego kolektif. Ujian apakah umat ini:

  • Mau taat meski tidak dipuji

  • Mau bersabar meski terasa diperlakukan tidak adil

  • Mau percaya pada Rasulullah ﷺ sepenuhnya

Dan mereka lulus—dengan air mata, dengan sesak di dada, namun tetap taat.


Relevansi untuk Kita Hari Ini

Dalam hidup, kita sering berada di “Hudaibiyah” versi kita sendiri:

  • Saat merasa benar, tapi diminta mengalah

  • Saat niat baik terhalang, tapi diminta bersabar

  • Saat ingin membalas, tapi diminta menahan diri

Hudaibiyah mengajarkan bahwa mengalah bukan selalu kalah, dan diam bukan selalu lemah. Ada momen ketika Allah sedang membangun kemenangan yang belum bisa kita lihat.


Jalan Panjang Menuju Fathu Makkah

Tanpa Hudaibiyah, tidak akan ada Fathu Makkah. Tanpa kesabaran ini, tidak akan ada kemenangan besar dua tahun kemudian. Hudaibiyah adalah fondasi sunyi dari kejayaan yang akan datang.

Ia mengajarkan bahwa Islam tidak dibangun hanya dengan keberanian, tetapi dengan kebijaksanaan. Tidak hanya dengan kekuatan, tetapi dengan kepercayaan penuh kepada Allah dan Rasul-Nya.

0 komentar: